Mitradharma.com – Boundaries atau batasan pribadi semakin penting dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang mengira menetapkan batasan berarti menjauh, tidak peduli, atau bahkan bersikap egois. Padahal, boundaries justru dapat membantu seseorang menjaga kenyamanan, waktu, emosi, privasi, serta hubungan dengan orang lain.
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menekankan bahwa memiliki boundaries bukan berarti egois. Batasan yang sehat dapat menjadi salah satu cara untuk menghargai dan melindungi diri sendiri.
Lalu, pentingkah boundaries itu? Jawabannya, penting. Namun, batasan perlu diterapkan dengan cara yang sehat, jelas, dan tetap menghargai orang lain.
Apa Itu Boundaries?
Secara sederhana, boundaries berarti batasan pribadi. Batasan ini menentukan sejauh mana seseorang merasa nyaman ketika berinteraksi dengan orang lain.
Batasan dapat berkaitan dengan banyak hal, mulai dari ruang pribadi, waktu, emosi, fisik, pekerjaan, keuangan, hingga kehidupan digital.
Misalnya, seseorang merasa tidak nyaman jika teman menelepon larut malam. Ia kemudian memilih untuk tidak menerima telepon setelah waktu tertentu.
Contoh lain adalah seseorang yang tidak ingin membagikan kata sandi media sosial kepada pasangan. Keputusan tersebut bukan otomatis berarti tidak percaya kepada pasangan. Itu merupakan bentuk perlindungan terhadap privasi pribadi.
Kementerian Kesehatan juga menyebutkan bahwa hubungan yang sehat menghargai boundaries, termasuk tidak memaksa seseorang memberikan kata sandi atau menuntut pasangan selalu tersedia secara daring.
Boundaries Bukan Berarti Menutup Diri
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap boundaries sebagai cara untuk membangun tembok terhadap orang lain.
Padahal, batasan yang sehat bukan berarti seseorang harus menjauh dari keluarga, teman, pasangan, atau rekan kerja.
Fakultas Psikologi UGM menggambarkan batasan seperti pagar rumah yang dapat dibuka dan ditutup sesuai keadaan. Artinya, boundaries dapat bersifat fleksibel dan menyesuaikan hubungan maupun situasi.
Seseorang tetap dapat membantu orang lain tanpa harus mengorbankan seluruh waktu dan energinya.
Menjadi pendengar yang baik juga tidak berarti harus menyelesaikan semua masalah orang lain. Jika terus mengambil beban orang lain, seseorang dapat merasa lelah dan kewalahan.
Mengapa Boundaries Penting?
Boundaries penting karena membantu seseorang mengenali batas kemampuan dirinya.
Tanpa batasan yang jelas, seseorang bisa terbiasa mengatakan “iya” meskipun sebenarnya tidak mampu. Akibatnya, kebutuhan pribadi terus dikesampingkan demi memenuhi keinginan orang lain.
Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat membuat seseorang merasa lelah, tertekan, kesal, atau merasa dimanfaatkan.
Sebaliknya, batasan yang sehat membantu seseorang menentukan apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan.
Boundaries juga membantu membangun hubungan yang lebih seimbang karena kedua pihak mengetahui kebutuhan dan batas masing-masing.
Boundaries dalam Hubungan Pertemanan
Dalam pertemanan, boundaries dapat terlihat dari cara seseorang menjaga waktu dan kenyamanan pribadi.
Misalnya, teman ingin bercerita mengenai masalahnya pada tengah malam. Jika kita sedang membutuhkan istirahat, kita berhak mengatakan bahwa pembicaraan tersebut dapat dilakukan pada waktu lain.
Mengatakan, “Saya ingin mendengarkan cerita kamu, tetapi sekarang saya perlu istirahat. Kita bicara besok,” bukan berarti tidak peduli.
Justru, cara tersebut menunjukkan bahwa seseorang berusaha tetap membantu tanpa mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.
Pertemanan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kedua pihak untuk menjadi diri sendiri dan saling menghargai.
Boundaries dalam Hubungan Pasangan
Dalam hubungan romantis, boundaries juga sangat penting.
Batasan dapat menyangkut privasi, waktu bersama, pergaulan, penggunaan media sosial, keuangan, ruang pribadi, hingga batasan fisik.
Pasangan tidak harus mengetahui seluruh isi kehidupan satu sama lain setiap saat.
Begitu pula dengan kebutuhan untuk memiliki waktu sendiri. Menghabiskan waktu bersama pasangan tidak berarti seseorang kehilangan hak untuk memiliki kegiatan pribadi.
Batasan fisik juga perlu dihormati. Setiap orang berhak menyampaikan rasa nyaman atau tidak nyaman terhadap sentuhan fisik. Dalam hubungan yang sehat, keputusan tersebut harus dihormati.
Boundaries di Tempat Kerja
Boundaries juga berlaku dalam dunia kerja.
Contohnya, seorang karyawan sedang menyelesaikan pekerjaan yang menjadi prioritas. Kemudian, ada permintaan pekerjaan tambahan yang harus diselesaikan segera.
Daripada langsung mengatakan “iya” dan akhirnya kewalahan, ia dapat menjelaskan kondisi pekerjaannya dan menanyakan prioritas tugas tersebut.
Batasan dalam pekerjaan bukan berarti tidak mau bekerja.
Batasan membantu seseorang mengatur waktu, tenaga, dan tanggung jawab agar pekerjaan dapat diselesaikan secara lebih teratur.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal terkait keseimbangan kehidupan kerja juga menjelaskan bahwa batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi membantu menjaga kesehatan mental, fisik, serta hubungan pribadi.
Bagaimana Cara Membuat Boundaries?
Membangun boundaries dapat dimulai dari mengenali diri sendiri.
Tanyakan kepada diri sendiri: hal apa yang membuat tidak nyaman? Kapan merasa terlalu lelah? Perlakuan seperti apa yang tidak dapat diterima? Berapa banyak waktu dan tenaga yang memang mampu diberikan kepada orang lain?
Setelah mengetahuinya, sampaikan batas tersebut secara jelas.
Hindari menyampaikan batasan dengan kalimat yang terlalu umum. Jelaskan apa yang dibutuhkan dan bagaimana orang lain dapat menghormatinya.
Contohnya, daripada mengatakan “Jangan ganggu saya”, seseorang dapat mengatakan, “Saya sedang menyelesaikan pekerjaan sampai pukul 16.00. Setelah itu saya bisa membahasnya.” Cara tersebut lebih jelas sehingga orang lain tidak perlu menebak maksud kita.
Berani Mengatakan Tidak
Salah satu bagian tersulit dalam membangun boundaries adalah mengatakan “tidak”.
Banyak orang takut dianggap tidak baik ketika menolak permintaan. Akhirnya, mereka terus menerima permintaan meskipun sudah lelah.
Padahal, mengatakan tidak terhadap sesuatu yang memang tidak mampu dilakukan merupakan bagian dari menjaga batas diri.
Menolak juga tidak harus dilakukan dengan kasar.
Kalimat seperti, “Maaf, saya belum bisa membantu sekarang karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan,” sudah cukup untuk menyampaikan batas dengan sopan.
Ketika Boundaries Tidak Dihormati
Masalah muncul ketika seseorang sudah menyampaikan batasannya, tetapi orang lain tetap mengabaikannya.
Dalam kondisi tersebut, batasan perlu ditegakkan secara konsisten.
Jika seseorang terus memaksakan diri masuk ke ruang pribadi, terus memberikan tekanan, atau mengabaikan permintaan yang sudah disampaikan dengan jelas, mengurangi interaksi atau mengambil jarak dapat menjadi pilihan.
UGM juga menjelaskan bahwa ketika batasan terus diabaikan, seseorang dapat mengambil langkah lebih tegas, termasuk mengurangi interaksi atau memberikan jarak.
Namun, boundaries bukan alat untuk mengendalikan orang lain.
Batasan lebih tepat digunakan untuk menentukan apa yang akan kita lakukan ketika sebuah perilaku membuat kita tidak nyaman atau merugikan diri sendiri.
Boundaries Bukan Alasan untuk Bersikap Egois
Perlu dibedakan antara boundaries dan sikap egois.
Egoisme cenderung menempatkan kepentingan diri sendiri tanpa mempertimbangkan hak dan kebutuhan orang lain.
Sementara itu, boundaries bertujuan menjaga kebutuhan diri sekaligus tetap menghormati orang lain.
Karena itu, seseorang dapat berkata “tidak” tanpa merendahkan orang lain.
Seseorang juga dapat meminta ruang tanpa memutus hubungan.
Dengan batasan yang sehat, hubungan justru dapat menjadi lebih jujur karena masing-masing pihak mengetahui apa yang dapat diterima dan apa yang tidak.
Kesimpulan
Boundaries itu penting karena membantu seseorang menjaga ruang pribadi, waktu, emosi, privasi, dan energi. Batasan juga dapat membantu membangun hubungan yang lebih sehat dan seimbang.
Namun, boundaries bukan berarti membuat tembok tinggi agar tidak ada orang yang boleh mendekat. Batasan yang sehat lebih seperti pagar. Ada bagian yang boleh dibuka ketika kita merasa aman dan nyaman, tetapi ada pula bagian yang perlu ditutup ketika kita membutuhkan ruang.
Intinya, peduli kepada orang lain tidak harus berarti mengorbankan diri sendiri.
Menolong orang lain boleh. Mendengarkan boleh. Mencintai orang lain juga boleh.
Tetapi tetap penting mengetahui kapan harus berkata “cukup”, “tidak”, atau “saya membutuhkan waktu untuk diri sendiri.”
Dengan memahami boundaries, seseorang bukan hanya belajar menghargai orang lain, tetapi juga belajar menghargai dirinya sendiri.
(Mitra Yuyanti)




