Rumah Sudah Tukang Dibunuah: Saat Timses Berjuang, Setelah Itu Dilupakan

Mitradharma.com– “Rumah sudah tukang dibunuah” merupakan ungkapan Minangkabau yang menyimpan pesan tajam tentang balas budi. Secara harfiah, ungkapan ini menggambarkan rumah yang telah selesai dikerjakan, tetapi orang yang membangunnya justru disingkirkan.

Maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar cerita tentang rumah dan tukang.
Ungkapan tersebut menggambarkan keadaan ketika seseorang telah memberikan tenaga, pikiran, waktu, atau jasa untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, tetapi setelah tujuan tercapai, orang yang berjasa justru tidak lagi dihargai.

Dalam kajian mengenai metafora bahasa Minangkabau, “rumah sudah tukang dibunuah” dijelaskan sebagai kiasan mengenai perbuatan baik yang dibalas dengan buruk atau keadaan ketika jasa seseorang tidak dihargai.

Makna inilah yang membuat ungkapan tersebut terasa relevan ketika digunakan untuk menggambarkan nasib orang-orang yang berada di balik sebuah perjuangan.
Salah satunya adalah tim sukses dalam sebuah kontestasi politik.

Timses Berjuang Sebelum Kemenangan
Dalam sebuah pertarungan politik, kandidat yang maju ke gelanggang tentu tidak bekerja sendirian. Ada orang-orang yang membantu menyusun strategi, mengatur kegiatan, menyampaikan pesan kepada masyarakat, menggalang dukungan, mengurus berbagai kebutuhan lapangan, hingga bekerja dari satu tempat ke tempat lain.

Sebagian bekerja secara terbuka. Sebagian lainnya bekerja tanpa banyak diketahui publik.
Mereka hadir ketika kemenangan belum pasti. Mereka ikut menghadapi kritik, penolakan, kelelahan, dan berbagai persoalan selama proses perjuangan.
Bagi tim sukses, masa sebelum kemenangan sering kali menjadi masa paling berat.
Mereka harus meyakinkan masyarakat bahwa calon yang didukung layak mendapatkan kepercayaan.

Mereka mendatangi masyarakat, berbicara dengan tokoh setempat, menyampaikan program, mengatur pertemuan, dan menjaga komunikasi dengan pendukung.
Tidak semua pekerjaan itu terlihat di permukaan.
Namun, hasil dari pekerjaan tersebut dapat ikut menentukan apakah sebuah perjuangan politik berhasil mencapai tujuan atau tidak.

BACA JUGA  IKTD Tanjung Pinang Kompak, Bupati Eka Putra Apresiasi Perantau Tanah Datar

Ketika Rumah Sudah Berdiri
Di sinilah ungkapan “rumah sudah tukang dibunuah” menemukan relevansinya.
Rumah dalam kiasan tersebut dapat dibayangkan sebagai sebuah tujuan yang telah berhasil dicapai.

Tukang adalah orang yang bekerja keras agar rumah itu berdiri.
Tetapi setelah rumah selesai, tukangnya justru tidak lagi dianggap penting.
Dalam konteks politik, rumah itu dapat dimaknai sebagai kemenangan.
Tukangnya dapat dimaknai sebagai orang-orang yang ikut bekerja mewujudkan kemenangan tersebut.

Perumpamaan ini tentu bukan berarti setiap tim sukses pasti mengalami nasib demikian.
Namun, ungkapan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa jasa orang yang membantu perjuangan seharusnya tidak dilupakan setelah tujuan tercapai.
Kajian tentang ungkapan tersebut juga menjelaskan bahwa gambaran “rumah” dan “tukang” digunakan untuk menunjukkan kontras antara sesuatu yang nyaman dan hasil yang tragis bagi orang yang telah berjasa. Pesannya berkaitan dengan larangan melupakan balas budi dan merendahkan orang yang sebelumnya telah berusaha membantu.

Nasib Timses Setelah Kemenangan
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana nasib tim sukses setelah kandidat yang didukung berhasil memenangkan pertarungan.
Saat kampanye berlangsung, komunikasi bisa sangat intens.
Telepon terus berdering. Pesan masuk hampir setiap waktu.
Pertemuan berlangsung dari pagi hingga malam.

Namun, setelah kemenangan diperoleh, keadaan dapat berubah.
Orang-orang yang sebelumnya sangat dekat bisa menjadi jauh.
Orang yang sebelumnya sering dimintai bantuan bisa tidak lagi dicari.
Bahkan, orang yang merasa ikut membangun kemenangan dapat merasa tidak lagi memiliki tempat dalam perjalanan berikutnya.

Situasi semacam inilah yang secara simbolik dapat digambarkan dengan ungkapan “rumah sudah tukang dibunuah.”
Rumah sudah selesai.
Tujuan sudah tercapai.
Tetapi tukang yang mengerjakannya tidak lagi dianggap.

Jangan Sampai Jasa Hanya Diingat Saat Dibutuhkan
Pesan utama ungkapan ini sebenarnya bukan sekadar kritik. Ada nasihat moral yang kuat di dalamnya. Seseorang yang pernah membantu seharusnya tidak hanya diingat ketika bantuan itu dibutuhkan. Hubungan antarmanusia tidak semestinya dibangun hanya berdasarkan kepentingan sesaat.

BACA JUGA  Pemimpin Feodalistik, Bisakah Diterima Masyarakat Minangkabau?

Dalam budaya Minangkabau, ungkapan dan pepatah sering digunakan untuk menyampaikan nasihat secara tidak langsung. Bahasa kias membuat pesan dapat disampaikan dengan halus, tetapi tetap memiliki makna yang kuat. Kajian mengenai bentuk ungkapan “rumah sudah tukang dibunuah” juga menunjukkan penggunaan bahasa kias untuk menyampaikan pesan tanpa menunjuk seseorang secara langsung.

Karena itu, ketika ungkapan tersebut dipakai untuk membaca fenomena politik, pesannya bukan semata-mata mengenai jabatan atau keuntungan.
Pesannya adalah tentang ingatan terhadap jasa.

Kemenangan Bukan Alasan Melupakan
Kemenangan politik pada akhirnya bukan hanya hasil kerja satu orang.
Ada proses panjang yang menyertainya. Ada orang yang menyumbangkan tenaga.
Ada yang menyumbangkan pikiran. Ada yang mengorbankan waktu.
Ada pula yang memberikan dukungan ketika kemenangan masih menjadi harapan.

Karena itu, ketika kemenangan sudah diperoleh, tidak ada salahnya melihat kembali siapa saja yang pernah berada dalam perjalanan tersebut.
Bukan berarti seluruh orang yang pernah membantu harus mendapatkan jabatan.
Bukan pula berarti setiap dukungan harus dibayar dengan keuntungan tertentu.
Yang lebih penting adalah menghargai jasa dan menjaga hubungan secara manusiawi.
Sebab, penghargaan tidak selalu berbentuk jabatan.

Ucapan terima kasih, komunikasi yang tetap terjaga, dan sikap tidak melupakan orang yang pernah membantu juga merupakan bentuk penghargaan.
Pelajaran dari “Rumah Sudah Tukang Dibunuah”
Ungkapan “Rumah Sudah Tukang Dibunuah” pada akhirnya membawa pesan sederhana tetapi kuat. Jangan sampai orang yang membantu membangun keberhasilan justru disingkirkan setelah keberhasilan itu diperoleh.

Dalam konteks tim sukses, perjuangan mereka memang berlangsung pada masa tertentu. Setelah kontestasi selesai, setiap orang kembali menjalani kehidupan dan perannya masing-masing.
Namun, berakhirnya perjuangan tidak harus berarti berakhir pula penghargaan terhadap orang-orang yang pernah membantu.
Kemenangan seharusnya menjadi awal untuk membangun hubungan yang lebih baik, bukan alasan untuk menghapus jasa masa lalu.

BACA JUGA  5 Buah Terbaik untuk Kesehatan Tubuh yang Baik Dikonsumsi Setiap Hari

Sebab, rumah yang berdiri kokoh tidak lahir begitu saja.
Ada orang yang mengukur, memotong, memasang, dan menyelesaikannya.
Jika rumah sudah berdiri, jangan sampai tukang yang membuatnya justru dilupakan.
Itulah salah satu pesan kuat yang dapat direnungkan dari ungkapan Minangkabau “Rumah Sudah Tukang Dibunuah”: jangan lupakan orang yang pernah berjasa hanya karena tujuan telah tercapai.

Ungkapan tersebut bahkan tercatat dalam sumber budaya Minangkabau sebagai bagian dari gambaran tentang rumah gadang dan keterampilan tukang, dengan pesan bahwa hasil karya yang telah dibuat tidak semestinya membuat jasa pembuatnya dilupakan.

(Mitra Yuyanti)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Artikel Teratas

TERPOPULER