Mitradharma.com – Sejarah mencatat, pengkhianatan tidak selalu datang dari musuh. Kadang, ia tumbuh di lingkaran terdekat, bersembunyi di balik pujian, kesetiaan palsu, dan kata-kata manis yang membuat penguasa merasa dirinya selalu benar.
Penjilat kekuasaan bukan penyakit baru dalam kehidupan berbangsa. Sejak zaman kerajaan dan peradaban kuno, orang-orang yang berusaha mengambil hati penguasa telah menjadi bagian dari politik istana. Mereka mendekat bukan selalu karena menghormati pemimpinnya, melainkan karena melihat peluang mendapatkan jabatan, kekayaan, perlindungan, atau pengaruh.
Di hadapan penguasa, kata-kata mereka terdengar seperti madu. Semua keputusan dianggap hebat. Setiap kebijakan dipuji sebagai terobosan. Kritik diperlakukan sebagai ancaman, sementara orang yang berani menyampaikan kenyataan dianggap tidak tahu diri.
Begitulah penjilat bekerja. Mereka tidak harus memegang senjata untuk melukai seorang pemimpin. Cukup dengan menyaring informasi, menyembunyikan kegagalan, membesar-besarkan keberhasilan, dan membuat penguasa percaya bahwa dirinya tidak mungkin salah.
Akibatnya, pemimpin perlahan kehilangan kemampuan membedakan kesetiaan dengan kepentingan pribadi.
Dari Peradaban Kuno hingga Politik Modern
Dalam peradaban kuno, istana menjadi pusat kekuasaan sekaligus tempat persaingan antarkelompok. Kedekatan dengan raja atau kaisar dapat menentukan nasib seseorang. Karena itu, para pejabat, penasihat, panglima, dan anggota keluarga kerajaan memiliki kepentingan untuk mempertahankan pengaruh mereka.
Tidak semua penasihat istana adalah penjilat. Banyak di antara mereka merupakan negarawan yang cakap dan berani mengingatkan penguasa. Namun, ketika seorang pemimpin hanya menyukai kabar baik, ruang bagi nasihat yang jujur akan semakin sempit.
Penyakit ini dapat ditemukan dalam berbagai bentuk sepanjang sejarah. Di satu kerajaan, pejabat memperebutkan perhatian raja. Di kerajaan lain, kelompok istana berusaha menyingkirkan pesaing dengan fitnah dan laporan yang telah dipelintir.
Pola tersebut menunjukkan bahwa penjilatan bukan monopoli suatu bangsa, agama, atau zaman. Ia merupakan risiko yang muncul ketika kekuasaan terkonsentrasi dan orang-orang di sekeliling pemimpin lebih takut kehilangan kedudukan daripada menyampaikan kebenaran.
Bahkan, dalam politik modern yang mengaku demokratis, pola serupa tetap bisa muncul. Pujian berlebihan dapat menggantikan evaluasi. Pencitraan bisa menutupi persoalan. Loyalitas kepada seseorang dapat ditempatkan lebih tinggi daripada tanggung jawab kepada masyarakat.
Perbedaannya hanya pada panggung dan cara penyampaiannya. Dahulu melalui aula istana, sekarang bisa melalui rapat, pidato, laporan resmi, hingga ruang publik digital.
Julius Caesar: Tewas di Tangan Orang-Orang Terdekat
Salah satu peristiwa paling terkenal dalam sejarah pengkhianatan politik adalah pembunuhan Julius Caesar, pemimpin Romawi yang tewas pada 15 Maret 44 SM.
Caesar dibunuh oleh sekelompok senator yang bersekongkol menentangnya. Mereka menganggap kekuasaan Caesar mengancam tatanan politik Republik Romawi. Di antara para konspirator itu terdapat Marcus Junius Brutus, tokoh yang namanya kemudian identik dengan pengkhianatan terhadap orang yang pernah memberinya kepercayaan. History, “Julius Caesar’s Forgotten Assassin.”
Caesar tewas setelah ditikam berulang kali dalam pertemuan di kompleks Pompey. Sumber sejarah kuno menyebutkan bahwa ia mengalami 23 luka tusukan. Suetonius, The Twelve Caesars, bagian tentang kematian Caesar.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa kedekatan pribadi tidak selalu menjamin kesetiaan politik.
Namun, ada hal yang perlu dibedakan: pembunuhan Caesar merupakan hasil konspirasi politik, bukan bukti bahwa penjilat secara langsung menjadi penyebab tunggal kematiannya. Para pelaku memiliki motif dan kepentingan masing-masing.
Justru di situlah pelajarannya. Di lingkungan kekuasaan, hubungan yang tampak akrab dapat menyembunyikan pertentangan yang serius. Pemimpin yang hanya menilai orang dari sikap manis di hadapannya berisiko gagal membaca perubahan loyalitas di belakangnya.
Yesus dan Yudas: Pengkhianatan dari Lingkaran Sendiri
Dalam tradisi Kristen, kisah pengkhianatan Yudas Iskariot terhadap Yesus menjadi salah satu gambaran paling dikenal tentang rusaknya kepercayaan.
Yudas adalah salah seorang murid Yesus. Dalam kisah Injil, ia menyerahkan Yesus kepada pihak yang hendak menangkapnya. Peristiwa itu kemudian menjadi bagian penting dari rangkaian kejadian yang berujung pada penyaliban Yesus.
Kisah tersebut merupakan narasi keagamaan, bukan contoh penjilatan politik dalam pengertian yang persis sama. Namun, ia kerap dipahami sebagai simbol pengkhianatan oleh orang yang berada dalam lingkaran dekat.
Pelajarannya terasa sederhana, tetapi menyakitkan: kedekatan tidak selalu berarti ketulusan. Orang yang mengetahui kebiasaan, kelemahan, dan kepercayaan seseorang juga dapat menjadi pihak yang paling mampu mengkhianatinya.
Karena itu, kesetiaan tidak semestinya diukur dari seberapa sering seseorang memuji. Kesetiaan justru terlihat dari kejujuran, konsistensi, dan keberanian mempertahankan kebenaran meskipun berbeda pendapat.
Socrates: Kebenaran yang Berhadapan dengan Kekuasaan
Socrates, filsuf Yunani yang hidup pada abad kelima SM, dihukum mati di Athena pada 399 SM setelah dinyatakan bersalah dalam persidangan yang berkaitan dengan tuduhan keagamaan dan pengaruhnya terhadap kaum muda.
Ia meninggal setelah meminum racun hemlock, sebagaimana dikenal luas dalam catatan sejarah filsafat. Plato, Apology dan Phaedo.
Socrates bukan korban yang terbukti dibunuh oleh penjilat istana. Namun, kisahnya sering digunakan untuk membahas hubungan antara kekuasaan, opini publik, dan keberanian mempertanyakan keyakinan yang dominan.
Dalam masyarakat yang tidak nyaman dengan kritik, orang yang mengajukan pertanyaan dapat dianggap mengganggu ketertiban. Sebaliknya, orang yang mengulang pendapat mayoritas sering dipandang lebih aman.
Di sinilah bahaya budaya penjilatan bertemu dengan ketakutan terhadap kebenaran. Ketika semua orang berlomba menyenangkan penguasa atau kelompok dominan, pertanyaan yang seharusnya dijawab justru dianggap sebagai serangan.
Pengkhianatan Tidak Selalu Berbentuk Tusukan
Sejarah memang menyimpan nama-nama tokoh yang tewas akibat konspirasi, pengkhianatan, atau konflik politik. Namun, tidak setiap kematian akibat pengkhianatan dapat dikaitkan langsung dengan penjilatan. Keduanya merupakan persoalan yang berhubungan, tetapi tidak identik.
Penjilat berusaha mendapatkan keuntungan dengan menyenangkan pihak yang berkuasa. Pengkhianat melanggar kepercayaan atau berpaling dari pihak yang sebelumnya didukung. Dalam situasi tertentu, kedua perilaku itu dapat bertemu, tetapi tidak selalu.
Pengkhianatan juga tidak selalu berakhir dengan kematian seseorang. Dalam pemerintahan, dampaknya bisa berupa rusaknya kepercayaan publik, kebijakan yang salah sasaran, pemborosan anggaran, atau hilangnya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Seseorang yang menyembunyikan kegagalan program demi menjaga citra atasannya mungkin tidak pernah mengangkat senjata. Namun, jika tindakannya membuat masalah terus berulang dan masyarakat menanggung akibatnya, kerusakan yang ditimbulkan tetap nyata.
Demikian pula, pejabat yang hanya menyampaikan keberhasilan tanpa menjelaskan kekurangan telah menghilangkan sebagian informasi yang dibutuhkan pemimpin untuk mengambil keputusan.
Pujian yang tidak disertai fakta bukanlah dukungan yang sehat. Ia hanya membuat kekuasaan berjalan dengan mata tertutup.
Mengapa Penjilat Selalu Mendapat Tempat?
Jawabannya tidak semata-mata karena penjilat pandai berbicara. Mereka tumbuh subur ketika sistem memberikan hadiah kepada orang yang menyenangkan atasan, tetapi menghukum orang yang menyampaikan kritik.
Ada tiga keadaan yang membuat perilaku tersebut semakin berbahaya.
Pertama, pemimpin terlalu nyaman mendengar pujian. Ia menganggap kritik sebagai ketidaksetiaan, bukan kesempatan memperbaiki diri.
Kedua, jabatan dan akses terhadap sumber daya menjadi tujuan utama. Orang-orang di sekitar kekuasaan akhirnya berlomba menunjukkan loyalitas pribadi, bukan kemampuan dan integritas.
Ketiga, tidak tersedia ruang yang aman untuk menyampaikan perbedaan pendapat. Laporan buruk ditutupi, masalah lapangan dipoles, dan suara masyarakat hanya didengar ketika sesuai dengan keinginan penguasa.
Dalam keadaan seperti itu, penjilat tidak perlu berbohong sepanjang waktu. Cukup dengan memilih fakta mana yang disampaikan dan mana yang disembunyikan, gambaran tentang kenyataan sudah dapat berubah.
Lebih berbahaya lagi apabila pemimpin menikmati keadaan tersebut. Penjilat menyediakan pujian, sedangkan pemimpin menyediakan panggung. Keduanya saling menguntungkan, tetapi masyarakat bisa menjadi pihak yang menanggung kerugiannya.
Bangsa Tidak Runtuh Hanya karena Musuh
Sebuah bangsa tidak otomatis runtuh karena memiliki banyak penjilat. Kemunduran terjadi melalui rangkaian keputusan dan kelemahan yang lebih luas. Namun, budaya penjilatan dapat memperparah keadaan ketika menghambat koreksi, melemahkan institusi, dan membuat penyalahgunaan kekuasaan sulit terungkap.
Sejarah Romawi memperlihatkan bahwa pembunuhan Caesar tidak memulihkan republik seperti yang diharapkan para konspirator. Sebaliknya, konflik politik dan perang saudara terus berlanjut, hingga tatanan kekuasaan Romawi berubah secara mendasar. National Geographic, “Et tu, Brute? The real story of Brutus’ betrayal of Caesar.”
Peristiwa itu memperlihatkan bahwa menjatuhkan seseorang tidak otomatis menyelesaikan persoalan sistem. Begitu pula mengganti pemimpin tidak akan banyak berarti apabila budaya yang melahirkan penyalahgunaan kekuasaan tetap dipelihara.
Bangsa yang sehat membutuhkan orang-orang yang berani mengatakan tidak, pejabat yang bersedia mengakui kesalahan, serta pemimpin yang tidak alergi terhadap kritik.
Tanpa itu semua, rapat bisa dipenuhi tepuk tangan, laporan bisa dipenuhi angka keberhasilan, dan pidato bisa dipenuhi kata-kata manis, sementara persoalan sesungguhnya tetap menunggu penyelesaian.
Pujian Boleh, Kebenaran Jangan Dikorbankan
Penjilat mungkin terlihat menang dalam jangka pendek. Mereka bisa mendapatkan perhatian, kedekatan, bahkan kesempatan menduduki jabatan. Namun, keberhasilan yang dibangun di atas informasi palsu dan kesetiaan semu selalu mengandung risiko.
Pemimpin yang cerdas tidak membutuhkan orang-orang yang selalu mengatakan dirinya benar. Ia membutuhkan orang-orang yang berani menunjukkan ketika dirinya keliru.
Masyarakat juga tidak seharusnya mudah terpukau oleh pidato yang indah atau pujian yang meriah. Ukuran kepemimpinan tetap harus kembali pada fakta, kebijakan, hasil kerja, tanggung jawab, dan manfaat yang benar-benar dirasakan rakyat.
Sebab, dalam sejarah, pengkhianatan memang dapat datang dari orang terdekat. Namun, kerusakan yang lebih panjang terjadi ketika seluruh lingkungan kekuasaan sepakat untuk tidak mengatakan kebenaran.
Penjilat paling berbahaya bukan sekadar orang yang memuji pemimpin. Ia adalah orang yang membuat pemimpin percaya bahwa pujian lebih penting daripada kenyataan. Dan pemimpin paling rentan bukanlah orang yang memiliki banyak pengkritik, melainkan orang yang sudah tidak memiliki siapa pun yang berani mengkritiknya.
(Mitra Yuyanti)






