Mitradharma.com –REMPAH ALAMI sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Kunyit, jahe, serai, lengkuas, kayu manis, lada, ketumbar, dan berbagai jenis rempah lainnya digunakan dalam masakan sehari-hari untuk memberikan aroma, rasa, dan karakter khas pada makanan.
Mengonsumsi rempah-rempah dari alam dapat menjadi bagian dari kebiasaan makan yang lebih beragam. Namun, rempah sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari pola makan sehat, bukan dianggap sebagai pengganti obat atau cara tunggal untuk mencegah penyakit.
Kebiasaan sehat tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang sulit. Memanfaatkan rempah sebagai bumbu masakan merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Rempah Bukan Sekadar Penyedap
Bagi banyak keluarga, rempah identik dengan bumbu dapur. Penggunaannya membuat makanan lebih harum dan memiliki cita rasa yang lebih kuat.
Kunyit, misalnya, sering digunakan dalam berbagai masakan. Jahe juga banyak dimanfaatkan sebagai bumbu maupun bahan minuman. Sementara serai, lengkuas, lada, dan ketumbar digunakan dalam berbagai olahan makanan.
Keberagaman tersebut membuat rempah mudah dimasukkan ke dalam menu sehari-hari.
Namun, penting membedakan penggunaan rempah sebagai bahan makanan dengan penggunaan tanaman herbal sebagai produk pengobatan. WHO menyebut pengobatan herbal perlu didukung bukti mengenai keamanan, mutu, dan efektivitasnya.
Karena itu, seseorang tidak seharusnya menganggap semua bahan alami pasti aman atau mampu mengobati penyakit tertentu.
Bisa Membantu Membentuk Pola Makan Lebih Baik
Penggunaan rempah dapat menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan makan yang lebih baik. Rempah memberikan rasa dan aroma pada makanan sehingga masakan tidak selalu bergantung pada penggunaan bahan tambahan dalam jumlah besar.
Hal yang lebih penting tetap keseluruhan pola makan. WHO Indonesia saat ini menyoroti pentingnya mengurangi konsumsi makanan yang tinggi gula, garam, dan lemak serta memperbanyak pilihan pangan yang lebih sehat.
Dengan demikian, penggunaan rempah sebaiknya ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.
Masakan yang menggunakan rempah tetap perlu memperhatikan jumlah garam, gula, minyak, dan bahan makanan lainnya.
Menggunakan banyak rempah tidak otomatis membuat makanan menjadi sehat apabila makanan tersebut tetap mengandung gula, garam, atau lemak dalam jumlah berlebihan.
Jahe, Kunyit, dan Rempah Lain
Jahe dan kunyit merupakan dua contoh rempah yang sangat dikenal masyarakat.
Keduanya dapat digunakan sebagai bagian dari makanan atau minuman. Namun, manfaat tertentu yang sering dikaitkan dengan rempah perlu dilihat berdasarkan bukti ilmiah dan cara penggunaannya.
WHO, misalnya, pernah menjelaskan bahwa jahe memiliki sejumlah sifat yang sedang diteliti, tetapi tidak ada bukti bahwa mengonsumsi jahe dapat mencegah atau menyembuhkan COVID-19. Hal serupa berlaku untuk berbagai klaim kesehatan yang terlalu luas terhadap rempah. Artinya, masyarakat perlu membedakan antara makanan yang dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat dan produk yang diklaim sebagai obat.
Utamakan Rempah yang Bersih dan Aman
Selain jenis dan cara penggunaan, keamanan rempah juga perlu diperhatikan.
Rempah kering dan tanaman aromatik dapat mengalami kontaminasi mikroorganisme. WHO dan FAO mencatat bahwa sejumlah patogen, termasuk Salmonella, pernah ditemukan pada rempah dan tanaman aromatik kering di pasaran.
Karena itu, masyarakat sebaiknya memilih rempah yang kondisinya baik dan menyimpannya dengan benar.
Hindari menggunakan rempah yang sudah berjamur, berubah warna secara tidak wajar, berbau tidak normal, atau menunjukkan tanda kerusakan.
Prinsip bahwa bahan alami selalu aman juga perlu dihindari. WHO mengingatkan bahwa bahan alami dapat mengandung zat yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan dalam kondisi tertentu.
Tidak Perlu Berlebihan
Kebiasaan mengonsumsi rempah juga tidak berarti harus menggunakannya dalam jumlah berlebihan. Rempah cukup digunakan sebagai bagian dari masakan atau minuman sesuai kebutuhan.
Penggunaan berlebihan tidak otomatis meningkatkan manfaat kesehatan. Bahkan, bahan tertentu dapat menimbulkan masalah apabila dikonsumsi secara tidak tepat.
Karena itu, prinsip yang paling aman adalah menggunakan rempah secara wajar sebagai bagian dari pola makan yang beragam.
Bagi orang yang sedang mengonsumsi obat atau memiliki kondisi kesehatan tertentu, penggunaan produk herbal dalam bentuk pekat atau suplemen sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Sehat Dimulai dari Kebiasaan Sederhana
Mengonsumsi rempah alami bukanlah solusi tunggal untuk menjaga kesehatan.
Kesehatan lebih berkaitan dengan keseluruhan kebiasaan, mulai dari memilih makanan yang beragam, mengatur konsumsi gula, garam, dan lemak, menjaga aktivitas fisik, tidur cukup, hingga melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan.
Rempah dapat menjadi bagian dari kebiasaan tersebut.
Dengan memanfaatkan bahan seperti jahe, kunyit, serai, lengkuas, lada, dan rempah lainnya secara wajar, masyarakat dapat mempertahankan tradisi kuliner sekaligus memperkaya pilihan bahan makanan.
Yang terpenting, jangan mudah percay
a pada klaim bahwa satu jenis rempah dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
Penggunaan bahan alami tetap membutuhkan pengetahuan, kehati-hatian, dan pemahaman mengenai batas manfaatnya.
Pada akhirnya, kebiasaan sehat dengan mengonsumsi rempah-rempah dari alam bukan tentang mencari satu bahan ajaib, melainkan membangun pola makan yang lebih beragam dan bijak. Rempah tetap menjadi bumbu dan bahan pangan yang bernilai, sementara kesehatan harus dijaga melalui keseluruhan pola hidup.
(Mitra Yuyanti)




