Menanti Pimpinan BAZNAS Dharmasraya: Ketika Kejujuran Mengaji Menjadi Cermin

Mitradharma.com – Ada kalimat yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang panjang.
“Di antara mereka secara jujur menyadari akan kemampuannya terhadap Al-Qur’an dan agama. Ini kan luar biasa.” Bu Yanti.

Kalimat itu terlontar dari salah seorang juri Pansel Pimpinan BAZNAS Dharmasraya ketika diwawancarai Pimpinan Redaksi Media ini terkait proses seleksi calon pimpinan BAZNAS Dharmasraya.

Bukan sekadar pujian.

Di balik kalimat tersebut seperti terselip sebuah harapan: mereka yang kelak duduk di kursi pimpinan BAZNAS tidak hanya mampu mengelola organisasi, tetapi juga memiliki pemahaman agama yang memadai.

Sebab BAZNAS bukan sekadar lembaga yang berbicara tentang angka, laporan dan administrasi.

Di dalamnya ada amanah umat.

Ada zakat yang dikumpulkan dari mereka yang menunaikan kewajiban. Ada harapan dari mereka yang menerima. Ada tangan-tangan yang menunggu uluran. Dan ada kepercayaan masyarakat yang tidak boleh diperlakukan sebagai sesuatu yang biasa.

Karena itu, ketika proses seleksi pimpinan BAZNAS memasuki tahapan penting, persoalan kemampuan memahami Al-Qur’an dan agama menjadi sesuatu yang kembali menarik perhatian.

Kejujuran yang Justru Mendapat Apresiasi

Juri Pansel memberikan penekanan pada satu hal yang mungkin terdengar sederhana: kejujuran peserta terhadap kemampuan dirinya sendiri.

Menurut juri, ada peserta yang secara terbuka menyadari sejauh mana kemampuan dirinya dalam membaca dan memahami Al-Qur’an serta agama.

Sikap tersebut justru dinilai luar biasa.

“Menurut kami, ada hal yang patut diapresiasi. Di antara para peserta, ada yang dengan jujur menyadari dan memahami sejauh mana kemampuan dirinya dalam membaca serta memahami Al-Qur’an dan agama,” ujar juri.

Kalimat itu seperti mengingatkan bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal berani maju.

Ada saat ketika seseorang harus berani mengatakan: ini kemampuan saya, dan ini pula keterbatasan saya.

BACA JUGA  Agusral, Korban Kedua Galodo di Solok, Ditemukan Meninggal

Kejujuran semacam itu mungkin tidak selalu terdengar gagah.

Namun, dalam sebuah proses mencari pemimpin lembaga yang mengelola amanah keumatan, kejujuran justru memiliki nilai tersendiri.

Bukan Sekadar Duduk di Lima Kursi

Kini, 10 calon pimpinan BAZNAS Dharmasraya masih menunggu Surat Rekomendasi BAZNAS RI.

Dari 10 nama tersebut nantinya akan ditentukan siapa saja yang mengisi lima kursi pimpinan BAZNAS Dharmasraya.

Lima kursi itu tentu bukan sekadar tempat duduk.

Di sana akan ada tanggung jawab untuk mengelola amanah zakat masyarakat.

Di sana pula akan dipertaruhkan kepercayaan masyarakat kepada lembaga yang membawa nama BAZNAS.

Karena itu, harapan juri menjadi relevan untuk dicermati.

“Moga yang lolos sampai akhir sebagai pimpinan BAZNAS, juga orang yang memahami agama,” ujar juri.

Harapan itu tidak sedang menunjuk siapa yang paling layak atau siapa yang tidak layak.

Harapan tersebut lebih menyerupai pesan kepada seluruh proses seleksi: siapa pun yang akhirnya terpilih, hendaknya benar-benar memiliki bekal keagamaan yang baik.

Di Antara Amanah dan Kepercayaan

BAZNAS bekerja di wilayah yang sangat dekat dengan kepercayaan.

Masyarakat memberikan sebagian hartanya dengan harapan zakat tersebut dikelola dan disalurkan kepada mereka yang berhak.

Karena itu, pemimpin BAZNAS idealnya bukan hanya memahami bagaimana sebuah lembaga berjalan.

Ia juga harus memahami nilai amanah yang melekat pada setiap rupiah zakat yang dikelola.

Di titik inilah pernyataan juri Pansel menjadi menarik.

Isu mengenai kemampuan membaca Al-Qur’an dan pemahaman agama yang muncul dalam proses wawancara tidak semestinya buru-buru diterjemahkan sebagai vonis terhadap peserta tertentu.

Yang lebih penting adalah pesan yang terkandung di baliknya: proses seleksi harus mampu menemukan orang yang memiliki kapasitas kepemimpinan sekaligus pemahaman agama yang baik.

BACA JUGA  Investasi Danantara Didorong Percepat Infrastruktur Sumbar

Sebab masyarakat tidak sedang menunggu sekadar nama.

Mereka menunggu sosok yang mampu menjaga amanah.

Menunggu Lima Nama dari Sepuluh Calon

Sepuluh calon kini berada dalam satu penantian.

Surat Rekomendasi BAZNAS RI akan menjadi bagian penting dari perjalanan menuju lima kursi pimpinan BAZNAS Dharmasraya.

Pada akhirnya, proses seleksi akan menentukan siapa yang dipercaya mengemban amanah tersebut.

Dan mungkin, di tengah penantian itu, kalimat sang juri kembali layak direnungkan:

“Moga yang lolos sampai akhir sebagai Pimpinan BAZNAS, juga orang yang memahami agama.”

Kalimat pendek.

Tetapi bagi sebuah lembaga yang mengelola amanah umat, harapan itu terasa panjang.

Sebab ketika seseorang menerima amanah untuk memimpin BAZNAS, yang dibawanya bukan hanya jabatan.

Ada kepercayaan masyarakat.

Ada hak mustahik.

Dan ada tanggung jawab moral untuk memastikan amanah itu tidak kehilangan maknanya.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Artikel Teratas

TERPOPULER