Mitradharma.com – Di sebuah negeri yang dipimpin seorang putri nan cantik jelita, kekuasaan bukan sekadar singgasana. Ia juga menjadi panggung tempat pujian dirangkai, kebesaran dikisahkan, dan kesetiaan diuji lewat kepatuhan.
Suatu hari, sang putri mengumpulkan para abdi dalemnya.
“Wahai abdi-abdi setiaku, jika kalian masih ingin duduk nyaman di kursi jabatan yang telah kuberikan, jalankan perintahku. Laksanakan tugas kalian, lalu kabarkan kepada rakyat bahwa semua keberhasilan itu adalah buah perjuanganku. Ceritakan kehebatanku, agungkan namaku!”
Titah itu pun disambut gegap gempita. Para abdi dalem berlomba menyusun kata, merangkai pujian, dan menyebarkan kisah tentang kehebatan sang putri ke seluruh penjuru negeri. Setiap pekerjaan seolah menjelma mahakarya, setiap program dikisahkan sebagai bukti keagungan, dan setiap kabar dibungkus dengan narasi yang membuat sang penguasa tampak nyaris tanpa cela.
Maka, mengalunlah dongeng itu. Indah terdengar, merdu dibaca, dan berulang-ulang diperdengarkan. Seakan-akan negeri sedang baik-baik saja, seolah tak ada keluh kesah yang perlu didengar, tak ada persoalan yang harus diselesaikan.
Namun, di balik gemuruh pujian, ada satu hal yang luput dari ingatan sang putri dan para abdi dalemnya: rakyat bukan lagi sekumpulan manusia yang mudah terlelap oleh cerita.
Rakyat kini bisa melihat, membandingkan, merekam, dan mempertanyakan. Mereka tidak hanya membaca kata-kata manis, tetapi juga merasakan kenyataan. Mereka tahu bedanya janji dengan bukti, pencitraan dengan pengabdian, serta pujian dengan prestasi yang benar-benar dirasakan.
Sebab, seindah apa pun dongeng yang dituturkan, jalan berlubang tetaplah jalan berlubang. Kesulitan rakyat tidak serta-merta sirna oleh rentetan berita keberhasilan. Dan perut yang lapar tak akan kenyang hanya karena namanya disebut dalam pidato pujian.
Di sinilah sang putri semestinya bercermin. Kekuasaan bukanlah panggung untuk terus dipuja, sementara para abdi sibuk menjaga telinga penguasa agar hanya mendengar kabar yang menyenangkan. Jabatan bukan hadiah untuk membangun barisan pemuji, melainkan amanah untuk bekerja dan mempertanggungjawabkan hasilnya.
Lebih menyedihkan lagi jika para abdi dalem mulai mengukur kesetiaan dari seberapa lantang mereka memuji, bukan seberapa jujur mereka menyampaikan kenyataan. Sebab, ketika kejujuran dikorbankan demi kenyamanan jabatan, penguasa perlahan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada tepuk tangan: kemampuan melihat kenyataan dengan mata terbuka.
Pada akhirnya, rakyat mungkin tersenyum mendengar dongeng sang putri. Namun, jangan buru-buru menganggap senyum itu sebagai tanda percaya. Bisa jadi mereka hanya sedang menahan tawa, menyaksikan sebuah istana yang begitu sibuk memuji dirinya sendiri hingga lupa memeriksa keadaan di luar gerbangnya.
Dan ketika dongeng berakhir, yang tersisa bukanlah gema pujian, melainkan kenyataan yang tak bisa dibungkam.
Sebab, rakyat boleh saja diceritakan tentang kehebatan pemimpinnya. Tetapi rakyatlah yang akan menilai, apakah kehebatan itu benar-benar hadir dalam kehidupan mereka, atau hanya tumbuh subur di dalam cerita para abdi dalem.
Sang putri boleh memiliki singgasana. Para abdi dalem boleh merangkai pujian. Namun, kebenaran tidak pernah tunduk pada titah, dan kenyataan tidak akan selamanya bisa ditidurkan oleh dongeng.






