Mitradharma.com – Kabut asap dan musim kemarau mulai memukul petani bawang merah di Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Produksi bawang merah dilaporkan turun hingga 40–50 persen setiap panen. Kondisi ini menambah kekhawatiran petani terhadap risiko gagal panen.
Penurunan produksi tersebut dirasakan petani di sejumlah wilayah, termasuk Rimbo Data dan Aie Dingin, Alahan Panjang. Mereka mengeluhkan pertumbuhan tanaman yang tidak normal sejak awal penanaman hingga memasuki masa pembentukan umbi.
Mido Dermawan (27), warga Rimbo Data, mengatakan banyak bibit bawang merah yang tidak tumbuh setelah ditanam. Sementara itu, tanaman yang berhasil tumbuh justru mengalami kerontokan daun dan pertumbuhan anakan yang lambat.
“Saat ini kami mengalami penurunan produksi bawang merah akibat kabut asap. Di ladang, setelah kami tanam, banyak bibit bawang yang tidak tumbuh. Yang berhasil tumbuh, daunnya rontok. Pertumbuhan anakan bawang juga lambat sehingga berpengaruh pada masa panen yang tidak seperti biasanya,” ujar Mido.
Menurutnya, penurunan hasil panen tersebut menimbulkan dugaan bahwa kondisi lingkungan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman.
Mido menjelaskan, selama beberapa tahun terakhir, petani masih menggunakan pola pengolahan lahan, pemilihan bibit, pupuk, serta jenis pestisida yang relatif sama seperti sebelumnya.
“Kuat dugaan kami karena proses dan sarana serta prasarana kami para petani bawang merah dari tahun ke tahun selalu sama, mulai dari penggarapan tanah, pemilihan bibit, pupuk, dan semua jenis racun hama masih sama seperti yang biasa kami pakai,” jelasnya.
Kemarau Memperbesar Risiko Gagal Panen
Keluhan serupa disampaikan Syafrinaldi (43), warga Aie Dingin, Alahan Panjang. Ia menilai kabut asap yang disertai kondisi cuaca tidak menentu menjadi persoalan serius bagi petani bawang merah.
Menurut Syafrinaldi, musim kemarau turut memengaruhi hasil pertanian. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, petani menghadapi risiko penurunan produksi yang lebih besar, bahkan gagal panen.
“Selain kabut asap, musim kemarau juga sangat memengaruhi hasil panen, bahkan berisiko gagal panen,” ungkapnya.
Bagi petani, penurunan produksi hingga 40–50 persen bukan persoalan kecil. Hasil panen merupakan salah satu penentu pendapatan mereka. Ketika jumlah bawang merah yang dipanen berkurang, potensi penerimaan petani juga ikut tertekan.
Kabut Asap Dapat Mengganggu Pertumbuhan Bawang Merah
Kabut asap yang mengurangi intensitas sinar matahari berpotensi menghambat fotosintesis, yaitu proses tanaman mengolah cahaya menjadi energi untuk tumbuh. Jika paparan cahaya tidak mencukupi, pertumbuhan tanaman dan pembentukan umbi dapat terganggu.
Kondisi lingkungan yang lembap juga dapat meningkatkan risiko penyakit tertentu pada tanaman. Namun, penyebab daun rontok, bibit tidak tumbuh, dan penurunan produksi yang dialami petani di Lembah Gumanti masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan langsung terhadap tanaman, kondisi lahan, serta faktor cuaca dan budidaya.
Karena itu, penurunan hasil panen yang dikeluhkan petani perlu mendapat perhatian. Pemeriksaan lapangan dapat membantu mengidentifikasi penyebab utama persoalan sekaligus menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Petani Berharap Pemerintah Turun Tangan
Menghadapi kondisi tersebut, petani bawang merah di Kecamatan Lembah Gumanti berharap pemerintah memberikan perhatian dan membantu mencari solusi atas persoalan yang mereka hadapi.
Mereka membutuhkan langkah penanganan yang dapat membantu mengurangi dampak kabut asap dan kemarau terhadap tanaman, sekaligus menekan risiko kerugian akibat penurunan produksi.
Petani juga berharap ada pendampingan untuk mengevaluasi kondisi tanaman dan lahan agar penyebab penurunan hasil panen dapat diketahui secara lebih jelas.
Bagi petani bawang merah di Lembah Gumanti, persoalan ini bukan hanya menyangkut hasil panen saat ini, tetapi juga kepastian usaha pertanian mereka ke depan.
Mereka berharap keluhan tersebut didengar dan ditindaklanjuti melalui langkah nyata, sehingga dampak kondisi cuaca terhadap produksi bawang merah dapat diminimalkan dan risiko gagal panen tidak semakin besar.
(Red)






