Kendaraan Listrik Makin Laris, Tapi Harga dan Suku Cadang Jadi Tantangan

Mitradharma.com – Kendaraan listrik semakin mendapat tempat di pasar otomotif Indonesia. Pertumbuhan penjualannya menunjukkan minat masyarakat terhadap mobil berbasis baterai terus meningkat.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 101.171 unit.
Angka tersebut meningkat 99,4 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 50.749 unit. Bahkan, penjualan selama delapan bulan 2026 sudah hampir menyamai total penjualan sepanjang 2025 yang mencapai 103.931 unit.
Namun, pertumbuhan penjualan tersebut belum berarti kendaraan listrik sudah menjadi pilihan utama bagi seluruh masyarakat. Harga pembelian, ketersediaan suku cadang, fasilitas pengisian baterai dan kekhawatiran mengenai baterai masih menjadi pertimbangan konsumen.

Harga Jadi Pertimbangan Utama

Harga kendaraan listrik menjadi salah satu faktor penting ketika masyarakat membandingkannya dengan mobil bermesin bensin atau diesel.

Konsumen tidak hanya melihat harga kendaraan saat membeli. Mereka juga mempertimbangkan biaya penggunaan dalam jangka panjang.

Kendaraan listrik memiliki sistem penggerak yang lebih sederhana dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal. Mobil listrik tidak membutuhkan sejumlah komponen mesin konvensional seperti oli mesin dan berbagai komponen yang berkaitan dengan sistem pembakaran.

Kondisi tersebut dapat memberikan keuntungan dari sisi perawatan rutin.

Namun, konsumen tetap harus memperhitungkan komponen utama kendaraan listrik, yaitu baterai. Baterai merupakan salah satu komponen dengan nilai paling besar pada sebuah mobil listrik.

Data yang diberitakan Bisnis.com pada April 2026 menyebutkan baterai dapat menyumbang sekitar 40-60 persen dari harga kendaraan listrik. Estimasi penggantiannya juga sangat bervariasi, mulai dari sekitar Rp100 jutaan untuk kendaraan tertentu hingga ratusan juta rupiah untuk kendaraan dengan kapasitas dan teknologi baterai lebih besar.

BACA JUGA  Tri Budi Ambarsari Disorot, KPK Sita Mobil Listrik Terkait Kasus Anom Widiyantoro

Karena itu, garansi baterai menjadi hal penting yang perlu diperhatikan calon pembeli.

Bagaimana dengan Suku Cadang?

Persoalan suku cadang juga menjadi pertimbangan sebelum membeli kendaraan listrik.

Mobil listrik memang memiliki lebih sedikit komponen mekanis dibandingkan mobil konvensional. Namun, komponen khusus kendaraan listrik membutuhkan teknologi dan penanganan yang berbeda.

Ketersediaan suku cadang, jaringan bengkel, teknisi yang memahami kendaraan listrik serta layanan purnajual menjadi faktor penting bagi konsumen.

Perkembangan industri komponen kendaraan listrik di Indonesia sendiri terus didorong pemerintah. Kementerian Perindustrian sedang melibatkan industri kecil dan menengah dalam rantai pasok kendaraan listrik nasional.

Perkembangan tersebut penting karena semakin banyak kendaraan listrik digunakan, semakin besar pula kebutuhan terhadap komponen, layanan perbaikan dan tenaga teknis yang mampu menangani kendaraan listrik.

Keunggulan Kendaraan Listrik

Salah satu alasan kendaraan listrik semakin diminati adalah biaya operasionalnya yang relatif rendah.

Pemilik tidak perlu membeli bahan bakar minyak untuk menggerakkan kendaraan. Pengisian energi dilakukan menggunakan listrik melalui fasilitas pengisian yang tersedia.

Kendaraan listrik juga memiliki karakter berkendara yang berbeda. Motor listrik mampu menghasilkan tenaga secara langsung sehingga respons akselerasinya dapat terasa cepat.

Selain itu, kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang dari proses pembakaran bahan bakar ketika digunakan.

Faktor biaya operasional juga menjadi alasan kepuasan pengguna. Survei PwC yang dirilis pada 2025 mencatat pemilik EV di Indonesia memiliki tingkat kepuasan 99 persen. Faktor yang disebut dalam survei antara lain waktu pengisian, biaya operasional yang lebih rendah dan usia baterai.

Infrastruktur Pengisian Terus Bertambah

Ketersediaan tempat pengisian baterai menjadi bagian penting dalam perkembangan kendaraan listrik.

Kementerian Perindustrian mencatat hingga April 2026 terdapat 4.769 unit SPKLU di 3.097 lokasi di Indonesia. Jumlah tersebut ditargetkan terus bertambah untuk mendukung pertumbuhan kendaraan listrik.

BACA JUGA  Mobil Double Gardan dan Truk Jadi Andalan di Dharmasraya, Ini Alasannya

Meski jumlah SPKLU bertambah, persebarannya tetap menjadi pertimbangan konsumen, terutama bagi masyarakat yang sering melakukan perjalanan jauh.

Bagi pengguna yang memiliki akses pengisian di rumah, penggunaan mobil listrik sehari-hari dapat menjadi lebih praktis. Sebaliknya, konsumen yang sering bepergian ke wilayah dengan fasilitas pengisian terbatas perlu memperhitungkan rute dan kebutuhan pengisian baterai.

Penjualan Menunjukkan Minat Masyarakat Meningkat

Data terbaru memperlihatkan pertumbuhan pasar kendaraan listrik cukup besar.

Pada Januari-Agustus 2026, penjualan BEV mencapai 101.171 unit. Pada periode yang sama, kendaraan hybrid terjual 58.040 unit dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) mencapai 8.981 unit.

Dari total 168.192 kendaraan berteknologi elektrifikasi yang terdistribusi pada periode tersebut, BEV menyumbang sekitar 60,2 persen.

Penjualan mobil listrik juga mencapai angka tertinggi bulanan pada Agustus 2026 dengan 17.413 unit.

Angka tersebut menunjukkan kendaraan listrik bukan lagi sekadar produk dengan pasar kecil. Kendaraan berbasis baterai sudah menjadi bagian penting dari perkembangan industri otomotif Indonesia.

Jadi, Bisakah Kendaraan Listrik Laris Manis?

Kendaraan listrik memiliki peluang pasar yang besar di Indonesia. Data penjualan 2026 menunjukkan pertumbuhan yang kuat.

Namun, harga kendaraan, biaya penggantian baterai, ketersediaan suku cadang, jaringan bengkel dan infrastruktur pengisian tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan konsumen.

Artinya, keputusan membeli kendaraan listrik tidak cukup hanya berdasarkan harga pembelian atau klaim hemat biaya. Konsumen perlu menghitung kebutuhan penggunaan, jarak perjalanan, akses pengisian baterai, layanan purnajual serta garansi baterai.

Dengan semakin berkembangnya industri komponen, bertambahnya SPKLU dan meningkatnya pilihan model kendaraan, pasar kendaraan listrik Indonesia terus mengalami perubahan.

Pada akhirnya, semakin mudah konsumen mendapatkan kendaraan, suku cadang, layanan perawatan dan fasilitas pengisian, semakin besar pula peluang kendaraan listrik untuk terus memperluas pasarnya di Indonesia.

BACA JUGA  Tri Budi Ambarsari Disorot, KPK Sita Mobil Listrik Terkait Kasus Anom Widiyantoro

(Mitra Yuyanti)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Artikel Teratas

TERPOPULER