Mitradharma.com – Festival PAI Internasional resmi dibuka Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Rabu, 9 September 2026. Pembukaan kegiatan ditandai dengan seminar internasional yang berlangsung di Auditorium Kampus 2.
Festival Pendidikan Agama Islam tersebut menghadirkan pembahasan mengenai perkembangan pendidikan Islam, tantangan pembelajaran PAI, serta kebutuhan peningkatan kapasitas guru dalam menghadapi perubahan zaman.
Kepala Kantor Kementerian Agama Tanah Datar, H. Hendri Pani Dias, hadir sebagai salah satu narasumber. Dalam seminar tersebut, ia membedah kebijakan dan berbagai persoalan yang dihadapi dalam implementasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam di lapangan.
Seminar internasional itu juga menghadirkan sejumlah pakar pendidikan dari dalam dan luar negeri. Narasumber yang tampil di antaranya Dekan FTIK UIN Mahmud Yunus Batusangkar Ridwal Trisoni, Guru Besar Universitas Negeri Padang (UNP) Alfurqan, serta pakar pendidikan dari Universiti Brunei Darussalam, Gamal Abdul Nasir Zakaria.
Kehadiran akademisi lintas negara tersebut memberikan warna tersendiri dalam pembukaan Festival PAI. Forum ini tidak hanya membahas persoalan pendidikan agama dari sisi akademik, tetapi juga mengaitkannya dengan tantangan yang dihadapi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Tidak Cukup Mengejar Nilai Akademik
Dalam paparannya, H. Hendri Pani Dias menekankan pentingnya pendidikan yang mampu membentuk karakter peserta didik secara seimbang.
Menurutnya, pendidikan tidak seharusnya hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Pendidikan juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk watak, moral, kecakapan, kemandirian, dan rasa tanggung jawab peserta didik.
“Konstitusi kita menghendaki pendidikan nasional yang tidak hanya mengejar akademik, namun juga harus membentuk watak, moral, kecakapan, kemandirian, dan tanggung jawab,” ujar Hendri.
Dalam kegiatan tersebut, Hendri hadir bersama Kasi PAIS, Agustamam.
Pembahasan mengenai karakter peserta didik menjadi penting karena anak-anak menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Tantangan tersebut tidak hanya datang dari lingkungan sekolah, tetapi juga dari keluarga, pergaulan sosial, hingga ruang siber.
Seminar PAI tersebut diikuti ratusan peserta. Mereka berasal dari sivitas akademika kampus, guru PAI di sekolah umum, serta mahasiswa.
Guru PAI Dituntut Mengikuti Perkembangan Teknologi
Perubahan zaman juga membawa tuntutan baru bagi guru Pendidikan Agama Islam. Guru tidak lagi cukup hanya memahami materi keagamaan, tetapi juga dituntut mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan perkembangan teknologi.
Hendri menilai peningkatan kapasitas pendidik menjadi kebutuhan penting dalam menghadapi kondisi tersebut.
“Guru PAI masa kini bukan hanya harus punya kompetensi PAI, namun juga harus menguasai integrasi sains, penguasaan teknologi digital atau AI, serta kemampuan pedagogik berbasis mahabbah,” katanya.
Kemampuan tersebut dinilai perlu berjalan bersama dengan kemampuan guru untuk berkolaborasi dan berinovasi.
Guru PAI juga diharapkan mampu mengembangkan moderasi beragama dalam proses pendidikan. Di samping itu, guru harus menjadi teladan bagi peserta didik, sehingga pembelajaran agama tidak berhenti pada penyampaian materi di ruang kelas.
Dengan tantangan yang semakin beragam, pendidik dituntut memahami kondisi peserta didik dan mampu menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai.
Waktu Belajar PAI di Sekolah Umum Jadi Tantangan
Salah satu persoalan yang dibahas dalam seminar adalah keterbatasan waktu pembelajaran PAI di sekolah umum.
Dalam bahan yang disampaikan, pembelajaran PAI di sekolah umum hanya memiliki tiga jam pelajaran. Waktu tersebut mencakup beberapa materi, yakni Al-Qur’an-Hadis, akidah, akhlak, fikih, dan sejarah Islam.
Keterbatasan waktu tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam menyampaikan materi keagamaan secara lebih luas.
Untuk menyiasatinya, Hendri memberikan sejumlah solusi taktis. Salah satunya melalui metode moving class dan pembelajaran kelompok yang dilakukan di luar kelas.
Metode tersebut dapat menjadi pilihan untuk membuat proses pembelajaran lebih fleksibel. Selain itu, lembaga pendidikan nonformal seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dinilai dapat menjadi pendukung dalam memperdalam pemahaman keagamaan siswa.
Dengan demikian, pembelajaran keagamaan tidak hanya bergantung pada waktu yang tersedia dalam pembelajaran PAI di sekolah umum.
Festival Berlangsung hingga 14 September
Seminar internasional yang digelar pada Rabu, 9 September 2026 menjadi penanda dimulainya rangkaian Festival Pendidikan Agama Islam Internasional.
Festival tersebut dijadwalkan berlangsung selama enam hari, mulai 9 hingga 14 September 2026.
Sejumlah cabang perlombaan telah disiapkan dalam kegiatan tersebut. Peserta akan mengikuti berbagai kompetisi, mulai dari Cerdas Cermat, Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ), Olimpiade PAI, MTQ Internasional, hingga olahraga Futsal PAI.
Rangkaian kegiatan tersebut mempertemukan unsur pendidikan, keagamaan, kompetisi, dan olahraga dalam satu festival.
Festival PAI Internasional mengusung tema “Global Competitiveness: A New Era of Qur’anic Vision for Islamic Generation.”
Tema tersebut menekankan pentingnya menyiapkan generasi muda yang memiliki kemampuan untuk bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an.
Melalui seminar internasional dan berbagai kegiatan yang digelar selama festival, ajang ini diharapkan memberikan wawasan baru bagi dunia pendidikan Islam.
Persoalan pendidikan agama, perkembangan teknologi, pembentukan karakter, serta kemampuan peserta didik menghadapi tantangan zaman menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pembahasan.
Festival PAI Internasional UIN Mahmud Yunus Batusangkar pun menjadi ruang pertemuan antara akademisi, guru, mahasiswa, dan peserta didik untuk memperkuat perhatian terhadap masa depan pendidikan Islam.
Pada akhirnya, pendidikan Islam tidak hanya diharapkan menghasilkan peserta didik yang memiliki pengetahuan agama. Pendidikan juga diarahkan untuk membentuk generasi yang memiliki karakter, kecakapan, kemandirian, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi persaingan global.




