Mitradharma.com – El Nino menjadi salah satu istilah yang kembali banyak dibicarakan ketika Indonesia menghadapi periode dengan curah hujan rendah dan kondisi yang lebih kering. Namun, sebenarnya El Nino itu apa dan apa dampaknya bagi masyarakat?
Berdasarkan pemantauan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi El Nino memang sedang aktif pada 2026. Bahkan, analisis BMKG pada Dasarian III Agustus 2026 menunjukkan indeks ENSO rata-rata tiga bulanan untuk periode Juni-Juli-Agustus mencapai 2,2. Nilai tersebut menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.
El Nino Itu Istilah untuk Apa?
Secara sederhana, El Nino adalah fenomena iklim ketika suhu permukaan laut di wilayah tengah hingga timur Samudra Pasifik mengalami pemanasan di atas kondisi normal.
Fenomena tersebut merupakan bagian dari El Nino-Southern Oscillation atau ENSO, yaitu pola perubahan suhu permukaan laut dan atmosfer di kawasan Pasifik yang dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.
Ketika El Nino terjadi, Indonesia secara umum cenderung mengalami penurunan curah hujan. Kondisi ini dapat membuat musim kemarau terasa lebih kering dan berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah.
Namun, El Nino bukan berarti Indonesia sama sekali tidak akan mengalami hujan.
BMKG menjelaskan bahwa pengaruh El Nino terhadap curah hujan berbeda-beda menurut wilayah dan musim. Karena itu, masyarakat tidak boleh menganggap setiap hari selama El Nino pasti panas atau tidak turun hujan.
Bagaimana Kondisi Indonesia Saat Ini?
Kondisi Indonesia pada September 2026 perlu menjadi perhatian karena El Nino sedang berada pada tingkat yang kuat berdasarkan pemantauan BMKG.
Pada Dasarian III Agustus 2026, sekitar 92,80 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan dalam kategori rendah. Sementara itu, sifat hujan di sekitar 93,96 persen wilayah berada pada kategori bawah normal.
Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi kering memang sedang terjadi di banyak wilayah Indonesia.
Sebelumnya, pada Dasarian II Agustus 2026, BMKG juga mencatat curah hujan rendah terjadi pada sekitar 90,29 persen wilayah Indonesia. Pada periode tersebut, beberapa wilayah juga masuk dalam peringatan dini kekeringan meteorologis.
Artinya, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang tinggal di daerah yang mengalami keterbatasan air atau sangat bergantung pada hujan.
BMKG memperkirakan dampak El Nino pada periode Juli hingga Oktober 2026 berpotensi lebih terasa di sejumlah wilayah, termasuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi hingga Papua bagian selatan. Di wilayah-wilayah tersebut, curah hujan diperkirakan berada di bawah normal dibandingkan rata-rata klimatologis.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Dampak paling mudah dirasakan masyarakat adalah berkurangnya ketersediaan air.
Ketika hujan jarang turun, sumber air seperti sungai, embung, waduk, sumur dan sumber air lainnya dapat mengalami penurunan debit. Kondisinya tentu berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Sektor pertanian juga menjadi salah satu bidang yang perlu mendapat perhatian.
Tanaman pangan yang sangat bergantung pada ketersediaan air dapat mengalami gangguan apabila kekeringan berlangsung cukup lama. BMKG sebelumnya juga menyebut pertanian, terutama tanaman pangan semusim, sebagai sektor yang rentan terhadap dampak rendahnya curah hujan akibat El Nino.
Kondisi kering juga dapat meningkatkan risiko kebakaran apabila terdapat sumber api dan bahan yang mudah terbakar. Karena itu, masyarakat perlu lebih berhati-hati ketika melakukan aktivitas yang menggunakan api di lingkungan terbuka.
Bagaimana Masyarakat Harus Menyikapinya?
Masyarakat tidak perlu panik menghadapi El Nino. Yang lebih penting adalah mengubah kebiasaan dan meningkatkan kesiapsiagaan.
Pertama, gunakan air secara hemat. Hindari membiarkan keran terbuka terlalu lama dan gunakan air sesuai kebutuhan.
Kedua, masyarakat yang memiliki sumber air perlu mengelolanya dengan baik. Jika memiliki tempat penampungan air, manfaatkan secara bijak agar persediaan tidak cepat habis.
Ketiga, petani sebaiknya memperhatikan informasi cuaca dan iklim dari BMKG sebelum menentukan kegiatan pertanian. Informasi tersebut dapat membantu masyarakat menyesuaikan waktu tanam dengan kondisi ketersediaan air.
Keempat, jangan sembarangan membakar sampah, lahan atau rerumputan yang mengering. Kondisi lingkungan yang kering membuat api lebih mudah menyebar.
Kelima, masyarakat perlu memperhatikan kondisi tubuh ketika cuaca terasa lebih panas dan kering. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca setempat.
Yang tidak kalah penting, masyarakat harus membedakan informasi resmi dengan kabar yang belum jelas sumbernya. Perkembangan El Nino dapat berubah sehingga informasi lama belum tentu menggambarkan kondisi terbaru.
BMKG sendiri terus memperbarui informasi iklim dan meminta masyarakat mengacu pada informasi terbaru untuk kebutuhan operasional di lapangan.
El Nino Bukan Alasan untuk Panik
El Nino merupakan fenomena iklim, bukan bencana yang otomatis menyebabkan kerusakan di semua wilayah Indonesia.
Dampaknya sangat bergantung pada kekuatan fenomena, kondisi atmosfer dan laut, musim, serta karakteristik masing-masing wilayah.
Karena itu, sikap yang paling tepat adalah waspada, hemat air, mengikuti informasi resmi dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi setempat.
Dengan langkah sederhana tersebut, masyarakat dapat mengurangi risiko yang muncul akibat kondisi kering.
Pada September 2026, informasi BMKG menunjukkan El Nino sedang berada pada kondisi sangat kuat berdasarkan indeks ENSO periode Juni-Juli-Agustus. Di saat yang sama, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah dan sifat hujan bawah normal.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak cukup hanya dipahami sebagai istilah di berita. Masyarakat perlu mengetahui dampaknya agar dapat mengambil tindakan yang tepat, terutama dalam menghemat air, menjaga lingkungan dan mengantisipasi kekeringan.




