Mitradharma.com – Malam itu, Affan Alqadri (24) masih bersama adiknya, Daffi Arahman, di sebuah warung di pinggir jalan Padang-Solok, kawasan Arosuka, Kabupaten Solok. Keduanya semula hanya ingin pulang setelah hujan reda. Warung yang mereka tempati juga hendak ditutup. Namun, rencana sederhana itu berubah menjadi perjuangan hidup dan mati ketika banjir bandang (galodo) tiba-tiba menerjang.
Selasa (22/9) pagi, Affan masih mencari-cari adiknya. Tubuhnya mengalami luka akibat terkena batu yang terbawa derasnya arus banjir.
Ia masih berharap Daffi ditemukan dalam keadaan selamat.
Kenangan tentang malam sebelumnya terus terbayang. Affan menceritakan bahwa saat itu dirinya sedang berada di dalam warung, sementara Daffi berada di luar.
Tiba-tiba, Daffi berlari masuk.
Ia memberitahu Affan bahwa ada air besar yang datang dari arah sungai.
Peringatan itu datang ketika keduanya sudah hampir tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.
Air bah segera menghantam warung yang berada di pinggir jalan Padang-Solok tersebut.
Terjebak di Dalam Warung
Saat air mulai naik, sebuah etalase di dalam warung menghantam Affan dan Daffi.
Affan langsung memeluk adiknya. Ia berusaha menahan etalase tersebut, tetapi kakinya ikut terjepit.
Dalam kondisi terdesak, Affan berusaha menendang etalase agar mereka bisa membebaskan diri.
Setelah berhasil keluar dari jebakan itu, keduanya mencoba menyelamatkan diri dari terjangan air.
Tetapi bahaya belum berakhir.
Banjir bandang menghantam sebuah barber shop yang berada di sebelah warung Affan. Bangunan itu ikut terseret arus.
Benturan dan derasnya air membuat Affan dan Daffi terpental.
Affan Melepaskan Pegangan demi Adiknya
Di tengah kepanikan, Affan sempat berusaha meraih sebuah tiang bangunan.
Ia menggenggam tiang itu agar tidak ikut terseret derasnya air.
Namun, dari tengah amukan banjir, terdengar suara Daffi meminta pertolongan.
Affan kemudian mengambil keputusan yang sangat berisiko.
Ia melepaskan genggamannya dari tiang tersebut untuk berusaha meraih tubuh adiknya.
Affan berupaya memeluk Daffi yang memiliki tubuh lebih besar darinya.
Untuk sesaat, ia mencoba mempertahankan adiknya agar tidak terbawa arus.
Namun, derasnya air kembali membuat keduanya terpental.
Pelukan itu akhirnya terlepas.
Affan tidak lagi mampu mempertahankan tubuh adiknya.
Terseret Air Bah
Kepala Affan kemudian terbentur batu.
Ia ikut terseret derasnya air banjir pada malam itu.
Dalam kondisi tenggelam, Affan berusaha mencari cara agar dirinya dapat bertahan.
Ia kemudian memutuskan membuka jaket yang dikenakannya.
“Saat tenggelam, saya memutuskan membuka jaket saya. Karena saya berpikir itu yang membuat saya tenggelam,” kata Affan.
Setelah itu, Affan terus berusaha bertahan hingga akhirnya selamat.
Namun, adiknya belum ditemukan.
Harapan Affan untuk kembali menemukan Daffi masih ada ketika tim gabungan melakukan pencarian.
Daffi Ditemukan 11 Kilometer dari Lokasi
Pencarian akhirnya membuahkan hasil pada hari yang sama.
Sekitar pukul 13.33 WIB, Tim SAR bersama warga menemukan Daffi.
Namun, kabar tersebut sekaligus menjadi akhir dari penantian Affan yang paling menyakitkan.
Daffi ditemukan sekitar 11 kilometer dari lokasi kejadian dalam keadaan meninggal dunia.
Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik, membenarkan penemuan tersebut.
“Salah satu korban, atas nama Daffi, telah ditemukan oleh tim pada jarak kurang lebih 11 kilometer dari lokasi kejadian dan ditemukan dalam keadaan meninggal dunia,” kata Abdul Malik.
Malam itu, Affan berusaha menyelamatkan adiknya dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya.
Ia memeluk Daffi ketika etalase menghimpit mereka. Ia melepaskan pegangan pada tiang bangunan ketika mendengar adiknya meminta pertolongan.
Namun, derasnya banjir bandang membuat keduanya akhirnya terpisah.
Kini, yang tersisa bagi Affan adalah luka di tubuh dan kenangan tentang perjuangannya mempertahankan sang adik di tengah amukan air bah.
Pelukan terakhir itu menjadi bagian paling pahit dari malam ketika banjir bandang (Galodo) menerjang Arosuka, Kabupaten Solok.
(Keterangan Affan sumber dari Jurnalis Halbert Caniago yang melaporkan untuk BBC Indonesia/Red)




