Mitradharma.com – Festival Budaya Adat Talawi (BATAFA) mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Sawahlunto sebagai ruang edukasi sekaligus upaya memperkuat pelestarian kearifan lokal.
Dukungan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Sawahlunto Jeffry Hibatullah saat menghadiri pembukaan Festival BATAFA pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurut Jeffry, kegiatan budaya seperti BATAFA tidak hanya menjadi ajang menampilkan kekayaan tradisi masyarakat Talawi. Festival ini juga dapat menjadi sarana untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga nilai-nilai budaya di tengah perubahan zaman. Pembukaan Festival BATAFA juga dirangkai dengan pengukuhan pengurus Kerapatan Adat Nagari (KAN) Talawi untuk masa bakti 2026–2031.
Pengukuhan tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena KAN memiliki posisi dalam kehidupan masyarakat adat. Keberadaan lembaga adat diharapkan dapat terus berperan dalam menjaga nilai budaya sekaligus mendampingi masyarakat menghadapi berbagai perubahan sosial.
Jeffry mengatakan, Pemerintah Kota Sawahlunto siap membangun sinergi dengan KAN Talawi melalui berbagai program yang disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Ia meminta pengurus KAN yang baru dikukuhkan tidak hanya menjalankan kegiatan secara rutin, tetapi juga menyusun program kerja yang konkret dan dapat dilaksanakan.
Program tersebut selanjutnya dapat dikoordinasikan dengan Pemerintah Kota Sawahlunto. Dengan pola kerja seperti itu, dukungan pemerintah dapat diarahkan sesuai kebutuhan serta kewenangan masing-masing pihak.
Langkah tersebut dinilai penting agar kerja sama antara pemerintah dan lembaga adat memiliki arah yang jelas. KAN dapat menyampaikan kebutuhan masyarakat melalui program yang terukur, sementara pemerintah dapat menyesuaikan bentuk dukungan berdasarkan kewenangan yang dimiliki.
Selain persoalan pelestarian budaya, Jeffry juga mengingatkan KAN Talawi mengenai perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat.
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Teknologi ini terus berkembang dan mulai menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Jeffry mendorong lembaga adat agar meningkatkan kepekaan terhadap perkembangan teknologi tersebut.
Menurutnya, KAN memiliki peran penting dalam mendampingi anak kemenakan dan masyarakat agar dapat memanfaatkan teknologi secara tepat.
Namun, kemampuan menggunakan teknologi saja dinilai belum cukup. Masyarakat juga perlu memahami berbagai risiko sosial yang dapat muncul dari penggunaan teknologi informasi.
Karena itu, lembaga adat diharapkan tidak hanya berfokus pada pelestarian tradisi, tetapi juga mampu mengikuti perubahan yang terjadi di tengah masyarakat.
Pendampingan terhadap anak kemenakan menjadi salah satu bagian yang penting dalam menghadapi perkembangan tersebut. Nilai-nilai adat dapat menjadi dasar dalam membangun sikap masyarakat ketika berhadapan dengan berbagai perkembangan teknologi.
Bagi Pemerintah Kota Sawahlunto, perkembangan teknologi dan pelestarian budaya tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang bertentangan.
Keduanya dapat berjalan bersama melalui kolaborasi yang tepat. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung masyarakat, sementara nilai budaya tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial.
Jeffry menegaskan, Pemko Sawahlunto bersama lembaga adat akan terus memperkuat kolaborasi dalam menghadapi perubahan sosial dan teknologi secara adaptif.
Kolaborasi tersebut diarahkan pada langkah-langkah konkret yang tetap menjaga nilai budaya sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi tantangan zaman.
Festival BATAFA Talawi menjadi salah satu ruang yang mempertemukan kepentingan tersebut. Di satu sisi, festival menjadi bagian dari upaya mengenalkan dan melestarikan kekayaan budaya lokal. Di sisi lain, keberadaan lembaga adat seperti KAN dapat diperkuat agar mampu merespons persoalan masyarakat yang terus berkembang.
Dengan pengurus KAN Talawi masa bakti 2026–2031 yang telah dikukuhkan, pemerintah berharap komunikasi dan kerja sama dengan lembaga adat dapat terus berjalan.
Program kerja yang konkret menjadi salah satu kunci agar sinergi tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Kebutuhan masyarakat dapat menjadi dasar dalam menyusun program, kemudian dikoordinasikan bersama pemerintah sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.
Dukungan terhadap Festival BATAFA sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga budaya lokal di tengah perubahan sosial dan teknologi yang semakin cepat.
Bagi masyarakat Talawi, pelestarian adat dan budaya bukan hanya tentang mempertahankan tradisi masa lalu. Upaya tersebut juga berkaitan dengan bagaimana nilai-nilai lokal tetap dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pada masa kini dan masa mendatang.
Melalui sinergi pemerintah dan lembaga adat, Sawahlunto berupaya menjaga kekayaan budaya lokal sekaligus mendorong masyarakat agar lebih siap menghadapi perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial.
Festival BATAFA pun tidak hanya menjadi kegiatan budaya, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran bahwa pelestarian adat perlu berjalan seiring dengan kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan zaman. (JUM)




