Mitradharma.com – Warisan budaya Solok Selatan kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Tiga kebudayaan asli Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTb Indonesia) oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Tiga kebudayaan tersebut adalah Saluang Panjang, Pangek Pisang, dan Tari Indang Tagak Beringin Sakti. Penetapan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberadaan kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Solok Selatan.
Ketiga warisan budaya itu telah memiliki nomor register resmi. Saluang Panjang tercatat dengan nomor 472/WB/KB.00.01/2025, Pangek Pisang dengan nomor 486/WB/KB.00.01/2025, sedangkan Tari Indang Tagak Beringin Sakti memiliki nomor 471/WB/KB.00.01/2025.
Sekretaris Daerah Kabupaten Solok Selatan, DR. H. Syamsurizaldi, mengatakan proses pengusulan ketiga kebudayaan tersebut telah dilakukan pada 2025 dan penetapannya juga dilakukan pada tahun yang sama.
Pemerintah Kabupaten Solok Selatan kemudian menerima sertifikat penetapan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Syamsurizaldi menyampaikan hal tersebut setelah menerima sertifikat di Kantor Gubernur Sumatera Barat, Jumat (28/8/2026).
“Hal ini bisa diraih berkat upaya pemerintah untuk terus melestarikan warisan budaya yang ada di tengah masyarakat,” kata Syamsurizaldi.
Pangek Pisang Masih Hidup di Masyarakat
Salah satu warisan budaya yang ditetapkan adalah Pangek Pisang. Makanan tradisional tersebut hingga kini masih dapat ditemukan dalam kegiatan masyarakat, terutama kegiatan yang berkaitan dengan adat.
Pangek Pisang merupakan masakan yang dibuat menggunakan santan dan berbagai bumbu rempah. Hidangan tersebut biasanya disajikan dalam sejumlah kegiatan masyarakat, seperti upacara adat, prosesi sosial, dan ritual keagamaan.
Keberadaan Pangek Pisang dalam kegiatan masyarakat menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya berbentuk kesenian atau benda tradisional. Makanan juga dapat menjadi bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Saluang Panjang dari Sungai Pagu
Warisan budaya kedua adalah Saluang Panjang. Alat musik tersebut dibuat dari bambu dan dikenal sebagai bagian dari ekspresi budaya masyarakat di kawasan Sungai Pagu, Muara Labuh, serta nagari-nagari di sekitarnya.
Saluang Panjang menjadi salah satu bentuk ekspresi budaya masyarakat yang masih dikenal di wilayah tersebut. Pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia menjadi bagian dari upaya untuk mendokumentasikan dan menjaga keberadaan Saluang Panjang agar tetap dikenal sebagai bagian dari kebudayaan Solok Selatan.
Tari Indang Tagak Terancam
Berbeda dengan Pangek Pisang dan Saluang Panjang yang masih dapat ditemukan dalam kegiatan masyarakat, Tari Indang Tagak Beringin Sakti menghadapi tantangan lebih besar.
Keberadaan tari tersebut disebut sudah terancam karena persoalan regenerasi. Tari Indang Tagak di Solok Selatan memiliki karakteristik yang berbeda dengan tari indang pada umumnya.
Tarian tersebut dimainkan oleh laki-laki. Para pemain menggunakan salendang, sementara indang yang digunakan memiliki ukuran lebih besar dibandingkan indang yang biasanya digunakan.
Ciri lainnya terletak pada pengiring tarian.
Tari Indang Tagak tidak menggunakan iringan musik seperti pada umumnya. Pertunjukan mengandalkan gerakan tari, dendangan yang berasal dari suara para pemain, serta bunyi dari alat indang yang digunakan. Karakteristik tersebut menjadi bagian penting dari identitas Tari Indang Tagak Beringin Sakti.
Namun, minimnya regenerasi menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian agar kesenian tersebut tidak kehilangan penerus.
Empat Strategi Pelestarian
Pemerintah Kabupaten Solok Selatan terus menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga warisan budaya takbenda yang ada di daerah tersebut. Upaya pelestarian dilakukan melalui empat pilar utama, yaitu pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.
Pada aspek pelindungan, langkah yang dilakukan mencakup pendataan, dokumentasi, dan pengarsipan berbagai unsur kebudayaan. Dokumentasi tersebut meliputi sejarah, syair, gerakan, instrumen, serta berbagai informasi lain yang berkaitan dengan warisan budaya.
Langkah ini penting untuk memastikan pengetahuan mengenai kebudayaan tersebut tidak hanya bergantung pada ingatan pelaku budaya.
Pilar berikutnya adalah pengembangan.
Pengembangan dilakukan melalui kajian akademik, inovasi koreografi, serta festival tari yang dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda. Dengan pendekatan tersebut, kebudayaan tidak hanya dipertahankan dalam bentuk lama, tetapi juga diperkenalkan melalui kegiatan yang dapat menarik perhatian generasi berikutnya.
Dikembangkan Menjadi Daya Tarik Wisata
Warisan budaya Solok Selatan juga diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata budaya.
Kesenian dan budaya lokal dapat ditampilkan melalui festival dan pameran. Pemerintah juga mendorong kolaborasi dengan komunitas seni untuk memperkenalkan warisan budaya tersebut hingga tingkat nasional. Pemanfaatan kebudayaan sebagai daya tarik wisata tetap ditempatkan sebagai bagian dari upaya pelestarian.
Selain pertunjukan dan festival, pembinaan juga menjadi bagian dari strategi pemerintah. Pembinaan dilakukan melalui lokakarya, pelatihan, dan diskusi budaya yang melibatkan siswa, sanggar seni, komunitas pemuda, serta pihak lainnya. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman generasi muda terhadap budaya daerahnya.
Penetapan Saluang Panjang, Pangek Pisang, dan Tari Indang Tagak Beringin Sakti sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia menjadi catatan penting bagi Solok Selatan.
Di satu sisi, penetapan tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap kebudayaan yang berkembang di masyarakat. Di sisi lain, status tersebut juga menjadi pengingat bahwa pelestarian membutuhkan tindakan berkelanjutan, terutama untuk budaya yang mulai menghadapi persoalan regenerasi.
Bagi Solok Selatan, menjaga warisan budaya bukan hanya mempertahankan sejarah. Upaya tersebut juga berarti memastikan pengetahuan, kesenian, tradisi, dan identitas budaya masyarakat tetap dapat dikenal oleh generasi mendatang.




