Mitradharma.com – Kualitas udara Pekanbaru, Riau, kembali berada pada kategori tidak sehat pada Minggu, 23 Agustus 2026 pagi. Kondisi tersebut terpantau melalui dua sumber pemantauan, yakni IQAir dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Data dari kedua sumber menunjukkan konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di udara Pekanbaru berada pada tingkat yang masuk kategori tidak sehat.
Berdasarkan pemantauan IQAir pada pukul 08.00 WIB, indeks kualitas udara atau AQI Pekanbaru berada di angka 161. Angka tersebut masuk dalam kategori tidak sehat.
Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 70,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Pada waktu pemantauan tersebut, suhu udara Pekanbaru tercatat 26 derajat Celsius. Kecepatan angin sekitar 8 kilometer per jam, sedangkan tingkat kelembapan mencapai 72 persen.
Data BMKG Juga Tunjukkan Kondisi Tidak Sehat
Kondisi serupa juga terlihat dari data BMKG. Pemantauan pada pukul 07.00 WIB menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru mencapai 62,5 µg/m³.
BMKG mengelompokkan konsentrasi PM2.5 pada rentang 55,5 hingga 150,4 µg/m³ sebagai kategori tidak sehat.
Dengan demikian, meskipun angka konsentrasi PM2.5 yang dicatat IQAir dan BMKG tidak sama, kedua sumber sama-sama menunjukkan bahwa kualitas udara Pekanbaru pada Minggu pagi berada dalam kategori tidak sehat.
Perbedaan angka tersebut tidak mengubah kesimpulan utama dari pemantauan. Partikulat halus di udara Pekanbaru masih berada di atas rentang kategori sedang.
Kondisi ini menjadi perhatian karena PM2.5 merupakan partikulat halus yang menjadi salah satu indikator penting dalam pemantauan kualitas udara.
Pekanbaru Terdeteksi Berasap
Kondisi kualitas udara yang tidak sehat juga sejalan dengan pemantauan atmosfer BMKG di wilayah Pekanbaru.
Pada Minggu pagi, BMKG mencatat kondisi berasap di Bandara Sultan Syarif Kasim II. Jarak pandang di lokasi tersebut sekitar 4 kilometer.
Angin pada saat pemantauan tercatat bertiup dari arah selatan dengan kecepatan 7,4 kilometer per jam.
Data tersebut memberikan gambaran bahwa kondisi atmosfer Pekanbaru pada Minggu pagi masih dipengaruhi keberadaan asap. Kondisi berasap tersebut muncul bersamaan dengan tingginya konsentrasi PM2.5 yang terpantau oleh BMKG dan IQAir.
Kombinasi data kualitas udara dan kondisi atmosfer tersebut menunjukkan bahwa masyarakat perlu memperhatikan kondisi udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Sebelumnya Juga Terjadi Penurunan Kualitas Udara
Kualitas udara Pekanbaru sebelumnya juga sempat mengalami penurunan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan.
Paparan asap tersebut menyebabkan konsentrasi PM2.5 meningkat. Ketika konsentrasi partikulat halus meningkat, kualitas udara yang terpantau juga dapat masuk ke kategori tidak sehat.
Pada Minggu pagi, kondisi tersebut kembali terlihat dari hasil pemantauan IQAir dan BMKG.
Kondisi udara tidak sehat bukan berarti seluruh masyarakat harus menghentikan aktivitas di luar ruangan. Namun, masyarakat perlu menyesuaikan aktivitas dengan kondisi udara yang sedang berlangsung.
Kelompok masyarakat yang sensitif menjadi pihak yang perlu lebih memperhatikan kondisi kualitas udara.
Masyarakat Diminta Kurangi Aktivitas di Luar
Dengan kualitas udara Pekanbaru yang masih berada pada kategori tidak sehat, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila aktivitas tersebut tidak diperlukan.
Langkah tersebut terutama penting bagi kelompok sensitif yang dapat lebih mudah terdampak ketika kualitas udara memburuk.
Bagi masyarakat yang harus tetap beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker dapat menjadi salah satu langkah perlindungan untuk mengurangi paparan langsung terhadap udara yang kurang baik.
Masyarakat juga dapat memperhatikan perkembangan informasi kualitas udara sebelum menentukan aktivitas di luar rumah.
Pemantauan kualitas udara menjadi penting karena kondisi atmosfer dapat berubah. Data pada Minggu pagi menunjukkan bahwa konsentrasi PM2.5 masih berada dalam kategori tidak sehat berdasarkan klasifikasi BMKG.
Dua Pemantauan Menunjukkan Kondisi Serupa
Jika dibandingkan, data IQAir dan BMKG memang menunjukkan angka yang berbeda. IQAir mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 70,3 µg/m³ pada pukul 08.00 WIB, sedangkan BMKG mencatat 62,5 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB.
Perbedaan waktu pengukuran tersebut menjadi salah satu konteks penting ketika membaca kedua data tersebut.
Namun, kedua hasil pemantauan sama-sama menempatkan kualitas udara Pekanbaru dalam kategori tidak sehat pada Minggu pagi.
Data tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya masyarakat mengikuti informasi resmi dan hasil pemantauan kualitas udara ketika kondisi atmosfer sedang kurang baik.
Untuk sementara, masyarakat Pekanbaru perlu lebih waspada terhadap paparan udara yang tidak sehat. Mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak dan menggunakan masker ketika harus berada di luar dapat menjadi langkah yang dilakukan selama kondisi kualitas udara masih kurang baik.
Kondisi kualitas udara Pekanbaru pada Minggu, 23 Agustus 2026, menjadi pengingat bahwa perubahan konsentrasi PM2.5 perlu diperhatikan, terutama ketika wilayah tersebut juga terpantau mengalami kondisi berasap.




