Mitradharma.com – KPU Kota Sawahlunto terus memperkuat sosialisasi dan pendidikan pemilih kepada masyarakat meski seluruh tahapan Pemilu dan Pilkada telah berakhir. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kesadaran masyarakat terhadap demokrasi pada masa non-tahapan.
Penguatan pendidikan pemilih tersebut disampaikan melalui dialog interaktif bersama Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Radio Sawahlunto FM 99,9 MHz, Rabu, 19 Agustus 2026.
Dialog berlangsung selama 60 menit dengan mengangkat tema “Membangun Budaya Demokrasi melalui Sosialisasi Pendidikan Pemilih pada Masa Non-Tahapan.”
Komisioner KPU Kota Sawahlunto Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM, Rony Yandri, hadir sebagai narasumber. Dialog dipandu oleh host Febriana Sugita.
Demokrasi Tidak Berhenti Setelah Pemilu
Rony menegaskan, berakhirnya tahapan Pemilu dan Pilkada bukan berarti proses membangun demokrasi ikut berakhir.
Menurutnya, masa setelah seluruh tahapan pemilu selesai justru menjadi kesempatan penting untuk mempertahankan kesadaran masyarakat terhadap demokrasi.
“Pemilu dan Pilkada memang telah selesai dilaksanakan. Namun, demokrasi tidak berhenti ketika proses pemungutan dan penghitungan suara berakhir,” ujar Rony.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah hal yang tetap perlu dilakukan pada masa non-tahapan. Di antaranya menjaga kesadaran masyarakat terhadap demokrasi, meningkatkan kualitas partisipasi pemilih, membentuk pemilih yang cerdas, serta memastikan masyarakat memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
Generasi Muda Jadi Perhatian
KPU Sawahlunto juga memberikan perhatian terhadap pendidikan pemilih bagi generasi muda, termasuk generasi Z.
Rony menilai masa non-tahapan merupakan waktu yang strategis untuk memberikan pemahaman kepemiluan secara berkelanjutan.
“Masa non-tahapan menjadi momentum untuk mempersiapkan masyarakat agar menjadi pemilih yang lebih cerdas dan bertanggung jawab,” katanya.
Menurut Rony, pendidikan pemilih tidak seharusnya hanya dilakukan ketika Pemilu atau Pilkada semakin dekat. Pendidikan tersebut perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau berbagai kelompok masyarakat.
KPU Sawahlunto karena itu mendorong keterlibatan generasi muda, masyarakat marginal, komunitas, lembaga pendidikan, partai politik, media, serta berbagai elemen masyarakat lainnya dalam membangun budaya demokrasi.
Bukan Sekadar Mengejar Angka Partisipasi
Rony mengatakan, keberhasilan demokrasi tidak hanya dilihat dari tingginya angka partisipasi pemilih.
Hal yang juga penting adalah bagaimana masyarakat menggunakan hak pilihnya secara sadar, rasional, dan bertanggung jawab.
Kota Sawahlunto, kata Rony, mencatat tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu dan Pilkada sebelumnya sebagai salah satu yang tertinggi di Sumatera Barat.
Namun, capaian tersebut dinilai perlu diikuti dengan peningkatan kualitas partisipasi masyarakat.
“Dengan demikian, kita tidak hanya mengejar tingginya angka partisipasi pemilih, tetapi juga membangun partisipasi yang berkualitas dan budaya demokrasi yang sehat di Kota Sawahlunto,” pungkasnya.
Upaya pendidikan pemilih pada masa non-tahapan menjadi bagian dari langkah KPU Sawahlunto untuk menjaga pemahaman masyarakat tentang demokrasi secara berkelanjutan, bukan hanya ketika tahapan pemilu sedang berlangsung.




