Mitradharma.com – Sumatera Barat memiliki ancaman tinggi bencana tsunami, terutama di wilayah yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Ancaman ini berkaitan dengan potensi megathrust Mentawai yang selama ini menjadi perhatian para ahli.
Untuk menghadapi ancaman tersebut, BPBD Provinsi Sumatera Barat dengan bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memasang 51 titik sirine early warning system (EWS) tsunami.
Sirine tersebut berfungsi sebagai bagian dari sistem peringatan dini untuk memberikan informasi kepada masyarakat apabila terjadi ancaman tsunami.
Sebanyak tujuh kabupaten dan kota di Sumatera Barat memiliki ancaman tsunami yang tinggi. Wilayah tersebut memiliki garis pantai dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.
Padang Punya 33 Sirine Tsunami
Dari 51 unit sirine EWS yang telah terpasang, Kota Padang memiliki jumlah terbanyak.
Sebanyak 33 unit sirine tsunami berada di Kota Padang. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan daerah lain yang masuk dalam wilayah pemasangan EWS.
Sementara itu, Kota Pariaman memiliki empat unit sirine. Kabupaten Padang Pariaman memiliki dua unit, Kabupaten Pesisir Selatan lima unit, Kabupaten Agam tiga unit, dan Kabupaten Pasaman Barat empat unit.
Adapun Kabupaten Kepulauan Mentawai hingga saat ini belum memiliki sirine EWS tsunami.
Dengan demikian, pemasangan sirine EWS belum mencakup seluruh wilayah yang disebut memiliki ancaman tsunami tinggi.
Sirine Dicek Setiap Tanggal 26
Keberadaan sirine peringatan dini tidak hanya bergantung pada jumlah unit yang terpasang. Kondisi dan fungsi sirine juga harus dipastikan secara berkala.
BPBD Sumbar melakukan pengecekan atau uji coba sirine setiap pukul 10.00 WIB pada tanggal 26 setiap bulan.
Pengecekan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh perangkat dapat berfungsi ketika benar-benar dibutuhkan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sumbar, Rezky Hidayat, mengatakan uji coba dilakukan untuk mengetahui kondisi sirine.
“Uji coba atau cek sirine ini penting dilakukan, agar diketahui sirinenya aktif atau tidak, suaranya keras atau tidak. Kalau tidak aktif, kita bisa segera perbaiki,” kata Rezky Hidayat pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Menurutnya, pengecekan secara rutin dapat membantu BPBD mengetahui lebih cepat apabila terdapat perangkat yang mengalami gangguan.
Dengan cara tersebut, kerusakan pada sirine dapat segera ditindaklanjuti dan diperbaiki.
Dua Sirine Tidak Aktif
Hasil pengecekan terbaru menunjukkan sebagian besar sirine EWS tsunami di Sumatera Barat masih berfungsi.
Pengecekan dilakukan pada Rabu, 26 Agustus 2026. Dari total 51 unit sirine yang tersedia, sebanyak 49 unit dinyatakan aktif dan bersuara jelas.
Namun, masih terdapat dua unit sirine yang tidak aktif.
BPBD Sumbar menyatakan dua unit yang bermasalah tersebut akan segera diperbaiki. Perbaikan diperlukan agar seluruh perangkat kembali dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Temuan tersebut juga menunjukkan pentingnya pengujian rutin terhadap sistem peringatan dini. Perangkat yang terlihat terpasang belum tentu selalu berada dalam kondisi siap digunakan.
Melalui pengecekan berkala, BPBD dapat mengetahui kondisi perangkat sekaligus memastikan suara sirine dapat terdengar dengan jelas.
Ancaman Megathrust Mentawai
Ancaman tsunami di Sumatera Barat menjadi perhatian karena wilayah pesisir provinsi ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.
Selain itu, terdapat potensi megathrust Mentawai yang menjadi perhatian dan telah diteliti oleh para ahli.
Kondisi tersebut membuat sistem peringatan dini menjadi salah satu bagian penting dalam upaya menghadapi potensi bencana tsunami.
Sirine EWS berperan sebagai salah satu perangkat untuk menyampaikan peringatan kepada masyarakat. Karena itu, perangkat harus dipastikan dapat berfungsi ketika dibutuhkan.
Namun, data yang tersedia juga menunjukkan masih ada wilayah yang belum memiliki sirine EWS. Kepulauan Mentawai disebut sebagai daerah yang belum memiliki perangkat tersebut.
Di sisi lain, Kota Padang menjadi daerah dengan jumlah sirine paling banyak, yakni 33 unit.
Pentingnya Sistem Peringatan Dini
Sistem peringatan dini merupakan bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana. Dalam konteks tsunami, informasi yang cepat menjadi penting karena masyarakat membutuhkan waktu untuk merespons ancaman.
Karena itu, BPBD Sumbar tidak hanya memasang sirine, tetapi juga melakukan pengujian secara rutin.
Uji coba dilakukan setiap tanggal 26 pukul 10.00 WIB. Pemeriksaan meliputi kondisi aktif atau tidaknya sirine serta kekuatan suara yang dihasilkan.
Hasil pemeriksaan pada 26 Agustus 2026 menjadi gambaran terbaru mengenai kondisi 51 unit EWS yang telah dipasang.
Sebanyak 49 sirine aktif dan menghasilkan suara yang jelas. Sementara dua lainnya tidak aktif dan akan segera diperbaiki.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam pemeliharaan sistem peringatan dini di Sumatera Barat.
Dengan pemeriksaan rutin, perangkat yang mengalami gangguan dapat diketahui sebelum terjadi keadaan darurat.
Tujuh Daerah Pesisir Masuk Perhatian
Sebanyak tujuh kabupaten dan kota di Sumatera Barat disebut memiliki ancaman tinggi terhadap tsunami. Wilayah tersebut memiliki garis pantai dan berhadapan dengan Samudera Hindia.
Pemerintah daerah melalui BPBD Sumbar telah menempatkan sirine EWS di sejumlah wilayah tersebut dengan dukungan BNPB.
Rinciannya adalah Kota Padang sebanyak 33 unit, Kota Pariaman empat unit, Kabupaten Padang Pariaman dua unit, Kabupaten Pesisir Selatan lima unit, Kabupaten Agam tiga unit, dan Kabupaten Pasaman Barat empat unit. Sementara Kepulauan Mentawai belum memiliki sirine EWS.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan tsunami di Sumbar terus dilakukan melalui pemasangan dan pemeliharaan perangkat peringatan dini.
Pengecekan berkala juga menjadi langkah penting untuk memastikan perangkat tidak hanya tersedia secara fisik, tetapi benar-benar dapat digunakan.
Ancaman tsunami tidak dapat diprediksi hanya dari kondisi sirine. Namun, memastikan sistem peringatan dini berfungsi merupakan bagian dari kesiapsiagaan yang perlu dilakukan secara terus-menerus.
BPBD Sumbar melalui pemeriksaan rutin berupaya mengetahui kondisi setiap unit. Jika ditemukan perangkat yang tidak aktif, perbaikan dapat segera dilakukan.
Hasil pemeriksaan pada 26 Agustus 2026 menunjukkan 49 dari 51 sirine EWS tsunami dalam kondisi aktif dan bersuara jelas. Dua unit lainnya ditemukan tidak aktif dan akan segera diperbaiki.




